tawaku lenyap
hilang
musnah
pudar
pergi
seketika
jiwaku mati ditempat
hidup ini susah
susah untuk diakhiri
susah untuk dijalani
terdiam
berfikir
berlari
namun apa yang pasti?
bibir ini kelu,
raga ini terguncang
bisa apa aku?
menulis tanpa ada yang tau dan mengerti
berbicara tanpa ada yang peduli
boleh aku mati TUHAN??
Rabu, 09 Juni 2010
aromanya
aromanya mendekat
seakan menyapaku
seakan ingin menjemputku
aku bilang
"jangan dulu.."
aromanya mendekat
menjadi pekat dan penat
berdesir
seakan menjawab
"piyantri gyalahuning muwalijuuju"
terjebak ngarai
ingin aku berlari
mencari makna
pikirannya
tadi itu
"aku ingin mengerti bahasamu"
aroma itu menjawab perlahan
berdesir lagi
kali ini terdengar syahdu
"aku ingin kamu kembali ke rumah"
aku tau
ini tak mudah
aku memang tak pantas
sebaiknya aku pulang ke rumah
"wiyantri wanendra hwaningguku wunimujiya"
aroma itu majas...
dan aku ingin pelajari maknanya
aroma itu
mungkin akan datang lain waktu
ketika aku ucapkan
"aku siap pulang ke tanah"
yang dihuni cacing dan rayap
serta smua makhluk itu
aku tau
aroma itu
mencekam
menikam
mengancam
aroma kematian..
ingin aku hirup lagi
tapi takut
tak lagi berada disini..
..
seakan menyapaku
seakan ingin menjemputku
aku bilang
"jangan dulu.."
aromanya mendekat
menjadi pekat dan penat
berdesir
seakan menjawab
"piyantri gyalahuning muwalijuuju"
terjebak ngarai
ingin aku berlari
mencari makna
pikirannya
tadi itu
"aku ingin mengerti bahasamu"
aroma itu menjawab perlahan
berdesir lagi
kali ini terdengar syahdu
"aku ingin kamu kembali ke rumah"
aku tau
ini tak mudah
aku memang tak pantas
sebaiknya aku pulang ke rumah
"wiyantri wanendra hwaningguku wunimujiya"
aroma itu majas...
dan aku ingin pelajari maknanya
aroma itu
mungkin akan datang lain waktu
ketika aku ucapkan
"aku siap pulang ke tanah"
yang dihuni cacing dan rayap
serta smua makhluk itu
aku tau
aroma itu
mencekam
menikam
mengancam
aroma kematian..
ingin aku hirup lagi
tapi takut
tak lagi berada disini..
..
pradinantimujiyaku
kemuning itu..
buat apa?
kuning..
tergeletak begitu saja
diatas kenap..
disebelahnya ada..
lelat yang
menunggu untuk
dipertontonkan
kemuning itu..
tlah berbentuk
tlah berwarna
menunggu keris
menunggu agar ada yang masuk
ke dalam..
buat apa?
kuning..
tergeletak begitu saja
diatas kenap..
disebelahnya ada..
lelat yang
menunggu untuk
dipertontonkan
kemuning itu..
tlah berbentuk
tlah berwarna
menunggu keris
menunggu agar ada yang masuk
ke dalam..
tik detik
pelan - pelan kau mulai usik hariku. dengan detikmu yang konstan setiap saat. merajai hari akan keberadaan yang membuat aku jadi terbatasi. namun pada suatu sisi kau adalah harapan akan semua yang akan aku lakukan. mungkin dirimu tau apakah yang akan terjadi saat kau menunjuknya. menunjuknya, menunjuknya.
dan mungkin kau adalah pahlawan saat semua lupa akan keberadaannya. dirimu bagaikan rindu yang dikerinduan. memusat pada hari dan tetap begitu, menjadi sebuah acuan dan patokan bahkan untuk masa depan. tak pernahkah engkau lelah sedikitpun? tak pernahkah engkau berniat untuk berhenti sebentar?
eh. aku mohon jangan pernah terhenti walau kau sebenarnya ingin berhenti. jangan berhenti waktu. walau kau bisa berlalu.
dan mungkin kau adalah pahlawan saat semua lupa akan keberadaannya. dirimu bagaikan rindu yang dikerinduan. memusat pada hari dan tetap begitu, menjadi sebuah acuan dan patokan bahkan untuk masa depan. tak pernahkah engkau lelah sedikitpun? tak pernahkah engkau berniat untuk berhenti sebentar?
eh. aku mohon jangan pernah terhenti walau kau sebenarnya ingin berhenti. jangan berhenti waktu. walau kau bisa berlalu.
hilang
Matanya telah berubah menjadi berintik putik air. Air matanya perlahan mulai menetes membasahi pipinya. Bulan menjadi saksi bisu atas perpisahan itu. Seakan tak ada yang dapat mendengar tangisan kerinduan dari lubuk hati yang tersayat pedih. Terpencil dan jauh dari segalanya. Hilang dan sepi terasa sendiri. Chika kembali menatap langit yang bertabur bintang. Mendengar deburan ombak dari pantai yang membentur karang di tepi laut. Merasakan belaian angin yang menari bersama rerumputan pinggir pantai. Sendiri dan kesepian.
Sudah cukup lama Chika tinggal di Yogya. Bersama nenek tercintanya yang telah meninggal sejak satu bulan silam. Kini Chika merasa kesepian, tanpa ada canda dan tawa riang neneknya yang selalu menyemangatinya. Kehidupannya berubah menjadi hampa. Setiap malam Ia pergi ke pantai untuk menangis, berdoa dan memohon agar Ia tetap mampu berdiri diantara terpaan ombak. Sembari menaburkan bunga mawar ke laut lepas, dimana adiknya tenggelam dan pergi jauh bersama orang tua dan neneknya ke alam lain. Dimata teman – temannya, Chika adalah gadis yang selalu menyendiri. Tertutup, dan sangat pendiam. Chika tergolong orang yang susah bersosialisasi. Apalagi dengan keadaannya kini. Satu – satunya teman yang selalu berusaha untuk mengerti perasaan Chika, adalah Dilan. Yang sekaligus menjadi tetangga barunya. Entah mengapa Dilan yang baru pindah dari Sleman merasa antusias untuk menjadi teman Chika.
Lagi – lagi hujan turun menguyur Bantul dan sekitarnya. Seperti biasa, Dilan membuntuti Chika pergi tanpa kepastian. Lusa, Chika melangkah ke Malioboro. Bergabung dengan berbagai keramaian, namun masih terlihat hilang seperti merantau ke negeri asing. Hari ini, Ia pergi ke Stasiun Tugu. Hanya ingin menunggu hujan reda, dan Ia kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Dilan sengaja duduk bersebelahan dengan Chika, yang seolah acuh dan selalu memandang ke arah luar jendela bus yang mereka tumpangi.
" Chika, sampai seperti inikah kamu memendam perasaanmu ? " kata Dilan mengawali perbincangan itu.
" Inilah aku. " jawab Chika dengan singkat dan masih menatap sesuatu yang seolah menyita perhatiannya di luar jendela.
" Kamu nggak bisa diem terus. Kamu harus bergerak, karena kehidupan ini akan selalu berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar." Kata Dilan meyakinkan Chika untuk memperhatikannya. Chika terdiam. Mungkin merenungkan sesuatu. Sampai akhirnya Ia berkata,
" Kamu nggak tau apa yang lagi aku rasain."
" Aku tau kamu lagi kehilangan arti hidup. Makanya akhir – akhir ini kamu sering pergi untuk mencari sebuah arti hidup, sendiri. " kata Dilan.
Percakapan itu terlihat semakin akrab. Memang hanya berawal dari sebuah pertemuan di bus kota yang sederhana, namun semua ini adalah awal dari sebuah makna yang istimewa. Bus melaju mengantarkan mereka ke Bantul. Dilan senang, hari ini Ia bisa berbicara dengan Chika. Hari demi hari berlalu dengan cepat. Telah nampak sebuah perubahan yang terjadi pada Chika. Ia sudah mulai mencoba bersosialisasi dengan teman – teman di kelas. Dilanlah yang kini telah menjadi sahabatnya. Mereka selalu berdua, membicarakan hal yang selalu ada kaitannya dengan kematian. Padahal Dilan adalah orang yang takut membicarakan kematian. Namun demi Chika, Dilan berusaha dengan sepenuh hati untuk mengerti sahabat barunya itu.
Jangan menyesal, karena ini adalah yang terbaik untuk kita. Jangan merasa jadi orang yang terendah. Karena serendah – rendahnya orang masih lebih rendah lagi orang yang suka merendah – rendahkan orang lain…
Rembulan setengah tiang. Malam semakin pasi. Bintang bersembunyi di balik lengan awan. Merangkak berwarna semu. Angin bertiup membawakan aroma duka kematian. Semalam, Mas Dion menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Bethesda, Yogya. Penyakit kanker yang ganas telah menggerogoti organ – organ tubuhnya, sehingga Dilan harus rela melepaskan kakak yang selalu membelanya jika sedang dimarahi Ibu. Tiga hari Dilan absen. Menangis di sudut kamarnya sembari memeluk boneka beruang hadiah dari kakaknya dua tahun silam. Merenungkan arti kematian yang akan menjemput semua insan di bumi. " Aku nggak tau apa yang terjadi kalau di rumah nggak ada kakakku. " kata Dilan pada Chika malam itu.
" Aku bisa ngerasain apa yang lagi kamu rasain. Ini emang susah, Tapi kan kata kamu, kehidupan ini akan terus berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar. Iya kan! " Sahut Chika.
Mata Dilan masih terlihat sembab karena Ia selalu menangis. Seolah rembulanpun tahu semua kesedilah yang dirasakan Dilan malam itu. Sehingga Ia tampak bersembunyi di balik awan hitam, di hati yang sedang gelisah.
Hujan rintik – rintik mengawali hari ini. Seperti biasa, Chika dan Dilan berangkat sekolah bersama. Payung warna – warni mengiringi langkah mereka. Obrolan kecil sesekali menimbulkan tawa riang seolah tak ada beban kesedihan. Hujan mereda, mentari kembali bersinar, tak sengaja Dilan dan Chika melihat pelangi dengan keindahannya yang tak abadi. Pelangi itu indah, tapi hanya sesaat saja. Datang dan perginya tak menentu. Walau buat kita bahagia, kadang tinggalkan luka. Namun kedamaian itu sirna dalam sekejap. Dilan melihat seorang anak kecil yang nyaris tertabrak mobil sebelum akhirnya Ia yang menggantikan anak itu. Segera Ambulance membawa Dilan ke Rumah Sakit. Ia harus rela kehilangan penglihatannya selama beberapa tahun. Ternyata Tuhan memang adil. Dilan masih diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan indahnya pelangi bersama sahabatnya sebelum Ia kehilangan sesuatu yang berarti. Suasana hening menyelimuti kamar 103, Chika terlihat sedih menyaksikan Ibu Dilan yang dari satu jam lalu tidak berhenti menangis. Tak lama kemudian, Dilan siuman. Ia hanya melihat hitam tanpa batas dalam hari – harinya. Tak ada yang dapat di salahkan dalam peristiwa ini. Menolong sesama adalah kewajiban.walau nyawa yang jadi taruhan. Dilan tahu Ia telah menjadi pahlawan. Namun Ia belum siap hidup dengan keterbatasan. Terpaksa Dilan menjalani homeschooling. Chika jadi semakin sering memotifasi Dilan untuk selalu bersemangat dalam menjalani hidup.
" Untuk apa aku hidup, kalau aku nggak bisa melihat pelangi bersamamu?." Kata Dilan pada Chika sore itu.
" Justru itu, kamu harus bisa nemuin pelangi di sudut pandangmu yang hanya hitam dan sepi. Ini tantangan. Dan aku yakin kamu pasti bisa. " Kata Chika meyakinkan Dilan untuk sabar.
" Dunia ku terlanjur hilang. Apa lagi yang akan hilang dariku. ? Apakah aku harus kehilangan semua yang aku suka ? " Tanya Dilan sambil menahan air mata.
" Rasa kehilangan itu, hanya aka ada jika kamu pernah memilikinya." Kata Chika sambil memegang tangan sahabatnya itu.
" Aku terlanjur memiliki semuanya. " Ucap Dilan.
" Tapi kamu belum bisa memiliki pendirian kalau hidup ini indah ! Kamu cuma bilang hidup ini indah, kalau kamu bisa menjalaninya dengan sempurna. Harusnya dalam keadaan apapun, kamu tetep bilang hidup ini indah. " Kata Chika dengan nada yang agak tinggi.Dengan semua kemampuannya, Chika berusaha meyakinkan Dilan akan Indahnya hidup. Seperti apa yang semua Dilan lakukan pada Chika dulu.
Rasa kehilangan hanya aka ada jika kau pernah merasa memilikinya…
Petang menjelang, dan cakrawala mulai menebar pesona keemasannya. Di pantai, Chika menulis puisi dengan nuansa jingga yang memayunginya. Tak terasa kini Chika telah beranjak dewasa. Ini adalah tahun kedua dimana Dilan kehilangan penglihatannya. Keadaan menjadi berubah. Chika kini sibuk dengan semua puisi – puisi yang Ia tulis untuk Dilan. Karena Dilan sempat berkata, walaupun Ia kehilangan penglihatannya, setidaknya Dilan tidak kehilangan suara, dan melodi. Malam itu, suara camca* terdengar jelas dari kamar Dilan. Itu berarti Dilan sedang merasa sepi. Ibunya menghampiri, sembari membawa secangkir susu coklat kesukaan Dilan. Suasana menjadi hangat, ketika Ibu Dilan mencoba menghibur hati putrinya itu.
" Bu, apakah aku akan melihat senyummu yang manis itu ? " tanya Dilan pada Ibunya.
" Tentu saja. Minggu depan, kamu akan memulai proses penyembuhan. Jadi jangan khawatir, sebentar lagi anak Ibu yang cantik ini bisa melihat dunia seperti dulu. " Kata Ibu sambil membelai rambut Dilan yang terurai panjang.
Tak terasa hari cepat berganti. Proses penyembuhan Dilan dimulai. Setiap lima hari sekali, Dilan harus control ke rumah sakit. Sedikit demi sedikit, tawa riang Dilan mulai terdengar seperti sedia kala. Rona gembira telah terpancar dari wajah Dilan. Tak lama lagi, Dilan dapat melihat.
" Bahagianya aku. Nggak lama lagi aku bisa melihat warna dunia yang sempat pudar dari ingatanku. " Kata Dilan pada Chika pagi itu.
" Ya, inilah yang akan kamu rasakan kalau kamu sabar." Kata Chika.
" Ini juga berkat kamu lho, Ka. Kan selama ini kamu yang udah motifasi aku, mbacain puisi yang paling bagus buat aku , dan selalu nemenin aku kalau aku lagi sendiri. " kata Dilan.
" Kamu juga berarti banget buat aku. Aku bisa jadi kayak aku yang sekarang ini kan berkat kamu. Sampai dulu kamu rela ngikutin aku sampai Malioboro, Stasiun Tugu. Ha..ha." Kata Chika sambil mengingat masa bahagianya bersama Dilan saat mereka masih berusia 13 tahun itu.
Waktu terasa semakin berlalu. Tinggalkan cerita tentang indahnya masa kecil. Dilan akhirnya dapat kembali melihat keindahan dari dunianya. Walau belum normal. Ia sudah merasa kangen dengan warna kota Yogya yang khas. Warna kota yang belum pernah berubah dari tahun ke tahun. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata – kata. Keindahan yang tidak akan pernah dimiliki kota – kota lain. Tawa mereka melukiskan sebuah masa yang menyenangkan. Penuh dengan semua emosi yang lugu, perjalanan hidup yang nyata, dan kebersamaan yang abadi.
Akhir Desember, Dilan dapat melihat dengan sempurna. Menyaksikan kembang api yang indah di malam tahun baru bersama Chika, sahabat yang sangat Ia sayangi. Alunan musik yang asyik ikut menyatu bersama mereka dan meramaikan malam itu. Terasa nyaman kebersamaan itu.
" Malam ini sempurna. " kata Dilan sambil mengambil secangkir soft drink di atas meja.
" Iya. Akan lebih sempurna lagi jika aku masih bisa kumpul bareng sama keluarga ku." Kata Chika dengan ekspresi yang agak sedih. Kedua sahabat itu berpelukan. Dekap hangat Dilan menenangkan Chika dari kegelisahannya akhir – akhir ini. Entah apa yang terjadi, sehingga Chika terlihat sedikit pendiam dari biasanya.
Ada resah di bening matanya. Pandangannya kosong. Memantulkan sebuah cahaya jiwa. Melarikan sejumput perbincangan hati. Menembus hujan, tertuju pada pantai Parangtritis. Chika duduk termenung melamunkan sesuatu yang menyita waktunya untuk menulis puisi sore itu. Ia memandangi laut lepas yang kebetulan sepi, tak ada kapal – kapal yang berlayar atau berlabuh. Rintik – rintik hujan mulai membasahi buku bersampul coklat milik Chika. Tulisannya pudar, sedikit. Namun masih bisa terbaca. Chika merobeknya perlahan dan Ia selipkan di sebuah amplop kecil. Segera berlari pulang karena hujan sudah semakin deras. Malam harinya, Ia pergi ke rumah Dilan. Menitipkan secarik surat untuk Dilan dan kembali ke rumah. Ibu Dilan langsung memberikannya pada Dilan.
"Rasanya aneh kalau Chika nggak langsung ngasih surat ini untuk aku. " gumam Dilan dalam hati, sembari membukanya.
Dear Dilan…
Goresan penamu telah mewarnai hari – hariku yang putih. Mengubahnya menjadi nyata. Terima kasih atas apa yang telah kau berikan untukku. Mengubahku menjadi aku yang seperti ini. Aku tau kau telah memilikiku. Tapi maaf aku harus pergi. Bukan meninggalkanmu, tapi hanya melepaskanmu. Pasti suatu saat kita akan bertemu lagi. Jika kau yakin akanku, maka semua ini akan berjalan seperti apa yang kau inginkan…..
*camca : Sendok kecil.
Tetes air mata membasahi surat itu. Dilan segera berlari menyusul Chika yang pergi entah kemana. Hujan dimalam itu tak Ia hiraukan. Satu hal yang saat itu Dilan pikirkan adalah Chika. Dilan pergi ke pantai, namun Ia hanya melihat pasir dan hujan yang seakan merasakan rasa kehilangan yang sama dengan Dilan. Dilan pergi ke Malioboro dengan menumpang sebuah kendaraan yang lewat saat itu. Akhirnya Dilan menemukan Chika diantara keramaian Malioboro yang jauhnya ber mil – mil dari rumah Dilan. Saat itu Chika sedang menulis sesuatu ketika Ia melihat Dilan…
' BRAK ! '
Seketika sunyi. Darah mengalir terbawa arus air hujan. Khalayak ramai menghampiri tubuh yang sudah tak berdaya. Teriakan kecil terdengar memanggil nama Chika. Dilan memeluk erat sahabatnya itu. Mungkin ini pertemuan terakhir antara mereka. Seakan tak mampu melepasnya walau sudah tak ada. Hati ini tetap merasa masih memilikinya. Karena rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya. Haru menyelimuti sudut pandang Dilan. Ia merasa bersalah jika Chika harus pergi meninggalkannya. Chika segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ini tak akan terjadi bila Dilan hati – hati. Chika sempat memberikan sesuatu pada Dilan sebelum akhirnya tubuh mungil Chika harus tertutup kain putih yang suci. Kecelakaan itu memang salah Dilan. Dan Chika menjadi penyelamatnya untuk yang terakhir kali., Isak tangis kehilangan terdengar jelas, itu suara Dilan. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang mencelakakan sahabatnya itu. Dilan ingat Chika memberinya selembar kertas tadi. Lalu Ia membacanya.
Untuk sahabatku, Dilan...
Aku tak tau tulisan ini bisa sampai di dekapmu atau tidak. Aku juga tak tau aku harus pergi kemana, dan, harus menulis apa untuk mu. Yang aku tau, aku sangat merasa kehilangan dirimu. Aku harap kita kelak dapat bejumpa lagi. Entah di alam yang sama atau di alam yang berbeda. Walau aku pernah kehilangan orang – orang yang aku sayangi, baru kali ini merasa memiliki, namun sebenarnya aku kehilangan. Aku menyebutnya memiliki kehilangan.walaupun ini nggak masuk akal aku tahu kamu pasti bisa ngerti apa yang aku rasain saat ini .Apakah …
Pesan itu tampak belum selesai. Mungkin tulisan Chika di Malioboro, sesaat sebelum Ia meninggalkan Dilan. Perpisahan ini lebih menyedihkan dari apa yang seharusnya aku coba untuk lafalkan.
Dilan masih tetap mencari kelanjutan pesan terakhir Chika. Yang jelas – jelas tidak akan pernah ditemukan. Sama halnya dengan Chika, Dilan juga baru pertama kali ini merasa memiliki kehilangan. Namun setidaknya Dilan berhasil menemukan arti sahabat….
Sudah cukup lama Chika tinggal di Yogya. Bersama nenek tercintanya yang telah meninggal sejak satu bulan silam. Kini Chika merasa kesepian, tanpa ada canda dan tawa riang neneknya yang selalu menyemangatinya. Kehidupannya berubah menjadi hampa. Setiap malam Ia pergi ke pantai untuk menangis, berdoa dan memohon agar Ia tetap mampu berdiri diantara terpaan ombak. Sembari menaburkan bunga mawar ke laut lepas, dimana adiknya tenggelam dan pergi jauh bersama orang tua dan neneknya ke alam lain. Dimata teman – temannya, Chika adalah gadis yang selalu menyendiri. Tertutup, dan sangat pendiam. Chika tergolong orang yang susah bersosialisasi. Apalagi dengan keadaannya kini. Satu – satunya teman yang selalu berusaha untuk mengerti perasaan Chika, adalah Dilan. Yang sekaligus menjadi tetangga barunya. Entah mengapa Dilan yang baru pindah dari Sleman merasa antusias untuk menjadi teman Chika.
Lagi – lagi hujan turun menguyur Bantul dan sekitarnya. Seperti biasa, Dilan membuntuti Chika pergi tanpa kepastian. Lusa, Chika melangkah ke Malioboro. Bergabung dengan berbagai keramaian, namun masih terlihat hilang seperti merantau ke negeri asing. Hari ini, Ia pergi ke Stasiun Tugu. Hanya ingin menunggu hujan reda, dan Ia kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Dilan sengaja duduk bersebelahan dengan Chika, yang seolah acuh dan selalu memandang ke arah luar jendela bus yang mereka tumpangi.
" Chika, sampai seperti inikah kamu memendam perasaanmu ? " kata Dilan mengawali perbincangan itu.
" Inilah aku. " jawab Chika dengan singkat dan masih menatap sesuatu yang seolah menyita perhatiannya di luar jendela.
" Kamu nggak bisa diem terus. Kamu harus bergerak, karena kehidupan ini akan selalu berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar." Kata Dilan meyakinkan Chika untuk memperhatikannya. Chika terdiam. Mungkin merenungkan sesuatu. Sampai akhirnya Ia berkata,
" Kamu nggak tau apa yang lagi aku rasain."
" Aku tau kamu lagi kehilangan arti hidup. Makanya akhir – akhir ini kamu sering pergi untuk mencari sebuah arti hidup, sendiri. " kata Dilan.
Percakapan itu terlihat semakin akrab. Memang hanya berawal dari sebuah pertemuan di bus kota yang sederhana, namun semua ini adalah awal dari sebuah makna yang istimewa. Bus melaju mengantarkan mereka ke Bantul. Dilan senang, hari ini Ia bisa berbicara dengan Chika. Hari demi hari berlalu dengan cepat. Telah nampak sebuah perubahan yang terjadi pada Chika. Ia sudah mulai mencoba bersosialisasi dengan teman – teman di kelas. Dilanlah yang kini telah menjadi sahabatnya. Mereka selalu berdua, membicarakan hal yang selalu ada kaitannya dengan kematian. Padahal Dilan adalah orang yang takut membicarakan kematian. Namun demi Chika, Dilan berusaha dengan sepenuh hati untuk mengerti sahabat barunya itu.
Jangan menyesal, karena ini adalah yang terbaik untuk kita. Jangan merasa jadi orang yang terendah. Karena serendah – rendahnya orang masih lebih rendah lagi orang yang suka merendah – rendahkan orang lain…
Rembulan setengah tiang. Malam semakin pasi. Bintang bersembunyi di balik lengan awan. Merangkak berwarna semu. Angin bertiup membawakan aroma duka kematian. Semalam, Mas Dion menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Bethesda, Yogya. Penyakit kanker yang ganas telah menggerogoti organ – organ tubuhnya, sehingga Dilan harus rela melepaskan kakak yang selalu membelanya jika sedang dimarahi Ibu. Tiga hari Dilan absen. Menangis di sudut kamarnya sembari memeluk boneka beruang hadiah dari kakaknya dua tahun silam. Merenungkan arti kematian yang akan menjemput semua insan di bumi. " Aku nggak tau apa yang terjadi kalau di rumah nggak ada kakakku. " kata Dilan pada Chika malam itu.
" Aku bisa ngerasain apa yang lagi kamu rasain. Ini emang susah, Tapi kan kata kamu, kehidupan ini akan terus berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar. Iya kan! " Sahut Chika.
Mata Dilan masih terlihat sembab karena Ia selalu menangis. Seolah rembulanpun tahu semua kesedilah yang dirasakan Dilan malam itu. Sehingga Ia tampak bersembunyi di balik awan hitam, di hati yang sedang gelisah.
Hujan rintik – rintik mengawali hari ini. Seperti biasa, Chika dan Dilan berangkat sekolah bersama. Payung warna – warni mengiringi langkah mereka. Obrolan kecil sesekali menimbulkan tawa riang seolah tak ada beban kesedihan. Hujan mereda, mentari kembali bersinar, tak sengaja Dilan dan Chika melihat pelangi dengan keindahannya yang tak abadi. Pelangi itu indah, tapi hanya sesaat saja. Datang dan perginya tak menentu. Walau buat kita bahagia, kadang tinggalkan luka. Namun kedamaian itu sirna dalam sekejap. Dilan melihat seorang anak kecil yang nyaris tertabrak mobil sebelum akhirnya Ia yang menggantikan anak itu. Segera Ambulance membawa Dilan ke Rumah Sakit. Ia harus rela kehilangan penglihatannya selama beberapa tahun. Ternyata Tuhan memang adil. Dilan masih diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan indahnya pelangi bersama sahabatnya sebelum Ia kehilangan sesuatu yang berarti. Suasana hening menyelimuti kamar 103, Chika terlihat sedih menyaksikan Ibu Dilan yang dari satu jam lalu tidak berhenti menangis. Tak lama kemudian, Dilan siuman. Ia hanya melihat hitam tanpa batas dalam hari – harinya. Tak ada yang dapat di salahkan dalam peristiwa ini. Menolong sesama adalah kewajiban.walau nyawa yang jadi taruhan. Dilan tahu Ia telah menjadi pahlawan. Namun Ia belum siap hidup dengan keterbatasan. Terpaksa Dilan menjalani homeschooling. Chika jadi semakin sering memotifasi Dilan untuk selalu bersemangat dalam menjalani hidup.
" Untuk apa aku hidup, kalau aku nggak bisa melihat pelangi bersamamu?." Kata Dilan pada Chika sore itu.
" Justru itu, kamu harus bisa nemuin pelangi di sudut pandangmu yang hanya hitam dan sepi. Ini tantangan. Dan aku yakin kamu pasti bisa. " Kata Chika meyakinkan Dilan untuk sabar.
" Dunia ku terlanjur hilang. Apa lagi yang akan hilang dariku. ? Apakah aku harus kehilangan semua yang aku suka ? " Tanya Dilan sambil menahan air mata.
" Rasa kehilangan itu, hanya aka ada jika kamu pernah memilikinya." Kata Chika sambil memegang tangan sahabatnya itu.
" Aku terlanjur memiliki semuanya. " Ucap Dilan.
" Tapi kamu belum bisa memiliki pendirian kalau hidup ini indah ! Kamu cuma bilang hidup ini indah, kalau kamu bisa menjalaninya dengan sempurna. Harusnya dalam keadaan apapun, kamu tetep bilang hidup ini indah. " Kata Chika dengan nada yang agak tinggi.Dengan semua kemampuannya, Chika berusaha meyakinkan Dilan akan Indahnya hidup. Seperti apa yang semua Dilan lakukan pada Chika dulu.
Rasa kehilangan hanya aka ada jika kau pernah merasa memilikinya…
Petang menjelang, dan cakrawala mulai menebar pesona keemasannya. Di pantai, Chika menulis puisi dengan nuansa jingga yang memayunginya. Tak terasa kini Chika telah beranjak dewasa. Ini adalah tahun kedua dimana Dilan kehilangan penglihatannya. Keadaan menjadi berubah. Chika kini sibuk dengan semua puisi – puisi yang Ia tulis untuk Dilan. Karena Dilan sempat berkata, walaupun Ia kehilangan penglihatannya, setidaknya Dilan tidak kehilangan suara, dan melodi. Malam itu, suara camca* terdengar jelas dari kamar Dilan. Itu berarti Dilan sedang merasa sepi. Ibunya menghampiri, sembari membawa secangkir susu coklat kesukaan Dilan. Suasana menjadi hangat, ketika Ibu Dilan mencoba menghibur hati putrinya itu.
" Bu, apakah aku akan melihat senyummu yang manis itu ? " tanya Dilan pada Ibunya.
" Tentu saja. Minggu depan, kamu akan memulai proses penyembuhan. Jadi jangan khawatir, sebentar lagi anak Ibu yang cantik ini bisa melihat dunia seperti dulu. " Kata Ibu sambil membelai rambut Dilan yang terurai panjang.
Tak terasa hari cepat berganti. Proses penyembuhan Dilan dimulai. Setiap lima hari sekali, Dilan harus control ke rumah sakit. Sedikit demi sedikit, tawa riang Dilan mulai terdengar seperti sedia kala. Rona gembira telah terpancar dari wajah Dilan. Tak lama lagi, Dilan dapat melihat.
" Bahagianya aku. Nggak lama lagi aku bisa melihat warna dunia yang sempat pudar dari ingatanku. " Kata Dilan pada Chika pagi itu.
" Ya, inilah yang akan kamu rasakan kalau kamu sabar." Kata Chika.
" Ini juga berkat kamu lho, Ka. Kan selama ini kamu yang udah motifasi aku, mbacain puisi yang paling bagus buat aku , dan selalu nemenin aku kalau aku lagi sendiri. " kata Dilan.
" Kamu juga berarti banget buat aku. Aku bisa jadi kayak aku yang sekarang ini kan berkat kamu. Sampai dulu kamu rela ngikutin aku sampai Malioboro, Stasiun Tugu. Ha..ha." Kata Chika sambil mengingat masa bahagianya bersama Dilan saat mereka masih berusia 13 tahun itu.
Waktu terasa semakin berlalu. Tinggalkan cerita tentang indahnya masa kecil. Dilan akhirnya dapat kembali melihat keindahan dari dunianya. Walau belum normal. Ia sudah merasa kangen dengan warna kota Yogya yang khas. Warna kota yang belum pernah berubah dari tahun ke tahun. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata – kata. Keindahan yang tidak akan pernah dimiliki kota – kota lain. Tawa mereka melukiskan sebuah masa yang menyenangkan. Penuh dengan semua emosi yang lugu, perjalanan hidup yang nyata, dan kebersamaan yang abadi.
Akhir Desember, Dilan dapat melihat dengan sempurna. Menyaksikan kembang api yang indah di malam tahun baru bersama Chika, sahabat yang sangat Ia sayangi. Alunan musik yang asyik ikut menyatu bersama mereka dan meramaikan malam itu. Terasa nyaman kebersamaan itu.
" Malam ini sempurna. " kata Dilan sambil mengambil secangkir soft drink di atas meja.
" Iya. Akan lebih sempurna lagi jika aku masih bisa kumpul bareng sama keluarga ku." Kata Chika dengan ekspresi yang agak sedih. Kedua sahabat itu berpelukan. Dekap hangat Dilan menenangkan Chika dari kegelisahannya akhir – akhir ini. Entah apa yang terjadi, sehingga Chika terlihat sedikit pendiam dari biasanya.
Ada resah di bening matanya. Pandangannya kosong. Memantulkan sebuah cahaya jiwa. Melarikan sejumput perbincangan hati. Menembus hujan, tertuju pada pantai Parangtritis. Chika duduk termenung melamunkan sesuatu yang menyita waktunya untuk menulis puisi sore itu. Ia memandangi laut lepas yang kebetulan sepi, tak ada kapal – kapal yang berlayar atau berlabuh. Rintik – rintik hujan mulai membasahi buku bersampul coklat milik Chika. Tulisannya pudar, sedikit. Namun masih bisa terbaca. Chika merobeknya perlahan dan Ia selipkan di sebuah amplop kecil. Segera berlari pulang karena hujan sudah semakin deras. Malam harinya, Ia pergi ke rumah Dilan. Menitipkan secarik surat untuk Dilan dan kembali ke rumah. Ibu Dilan langsung memberikannya pada Dilan.
"Rasanya aneh kalau Chika nggak langsung ngasih surat ini untuk aku. " gumam Dilan dalam hati, sembari membukanya.
Dear Dilan…
Goresan penamu telah mewarnai hari – hariku yang putih. Mengubahnya menjadi nyata. Terima kasih atas apa yang telah kau berikan untukku. Mengubahku menjadi aku yang seperti ini. Aku tau kau telah memilikiku. Tapi maaf aku harus pergi. Bukan meninggalkanmu, tapi hanya melepaskanmu. Pasti suatu saat kita akan bertemu lagi. Jika kau yakin akanku, maka semua ini akan berjalan seperti apa yang kau inginkan…..
*camca : Sendok kecil.
Tetes air mata membasahi surat itu. Dilan segera berlari menyusul Chika yang pergi entah kemana. Hujan dimalam itu tak Ia hiraukan. Satu hal yang saat itu Dilan pikirkan adalah Chika. Dilan pergi ke pantai, namun Ia hanya melihat pasir dan hujan yang seakan merasakan rasa kehilangan yang sama dengan Dilan. Dilan pergi ke Malioboro dengan menumpang sebuah kendaraan yang lewat saat itu. Akhirnya Dilan menemukan Chika diantara keramaian Malioboro yang jauhnya ber mil – mil dari rumah Dilan. Saat itu Chika sedang menulis sesuatu ketika Ia melihat Dilan…
' BRAK ! '
Seketika sunyi. Darah mengalir terbawa arus air hujan. Khalayak ramai menghampiri tubuh yang sudah tak berdaya. Teriakan kecil terdengar memanggil nama Chika. Dilan memeluk erat sahabatnya itu. Mungkin ini pertemuan terakhir antara mereka. Seakan tak mampu melepasnya walau sudah tak ada. Hati ini tetap merasa masih memilikinya. Karena rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya. Haru menyelimuti sudut pandang Dilan. Ia merasa bersalah jika Chika harus pergi meninggalkannya. Chika segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ini tak akan terjadi bila Dilan hati – hati. Chika sempat memberikan sesuatu pada Dilan sebelum akhirnya tubuh mungil Chika harus tertutup kain putih yang suci. Kecelakaan itu memang salah Dilan. Dan Chika menjadi penyelamatnya untuk yang terakhir kali., Isak tangis kehilangan terdengar jelas, itu suara Dilan. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang mencelakakan sahabatnya itu. Dilan ingat Chika memberinya selembar kertas tadi. Lalu Ia membacanya.
Untuk sahabatku, Dilan...
Aku tak tau tulisan ini bisa sampai di dekapmu atau tidak. Aku juga tak tau aku harus pergi kemana, dan, harus menulis apa untuk mu. Yang aku tau, aku sangat merasa kehilangan dirimu. Aku harap kita kelak dapat bejumpa lagi. Entah di alam yang sama atau di alam yang berbeda. Walau aku pernah kehilangan orang – orang yang aku sayangi, baru kali ini merasa memiliki, namun sebenarnya aku kehilangan. Aku menyebutnya memiliki kehilangan.walaupun ini nggak masuk akal aku tahu kamu pasti bisa ngerti apa yang aku rasain saat ini .Apakah …
Pesan itu tampak belum selesai. Mungkin tulisan Chika di Malioboro, sesaat sebelum Ia meninggalkan Dilan. Perpisahan ini lebih menyedihkan dari apa yang seharusnya aku coba untuk lafalkan.
Dilan masih tetap mencari kelanjutan pesan terakhir Chika. Yang jelas – jelas tidak akan pernah ditemukan. Sama halnya dengan Chika, Dilan juga baru pertama kali ini merasa memiliki kehilangan. Namun setidaknya Dilan berhasil menemukan arti sahabat….
life
Kumulai menjalani kehidupan baruku di lembar putih bersih belum tergores oleh tinta bolpen hi tec ukuran 0.3 atau lebih dari itu. Aku harap semua yang terjadi kini adalah hal yang tak akan pernah berubah dari keseharianku. Menekuni hal yang pantas dan bisa kulakoni, bukan suatu hal yang terpaksa dan semata – mata hanya logika berbicara. Aku bukan anak ningrat yang gampang buat ngelakoni apa – apa. Mencoba hidup dengan apa yang bisa diajak hidup, bukan hal yang kecil, namun jangan sebut barang mewah. Ini hanya sebuah cacatan perjalanan yang akan menuntunku ke sebuah jalan yang memang membawaku ke tempat dimana semua insan sepertiku menikmati separuh hidupnya disana. Aku tak ingin dibeda – bedakan. Siapa peduli aku dari mana dan termasuk golongan apa? Mungkin tergolong anak aneh yang suka melebih – lebihkan hal yang memang pantas untuk dilebih – lebihkan. Yang suka menjelek – jelekkan hal yang sudah jelek. Berkata bebas tanpa kosa kata menurut orang yang mengaku pintar tetapi tak berhasil menghasilkan sesuatu yang membuat seseorang iri dan ingin menjadi sepertinya. Hanya ada satu manusia yang menghuni ruanganku. Berisi imajinasi dan sel penyemangat yang lebih sering kusebut omh. Bukan partikel dari O2 atau semacam zink. Inilah sebuah bahasa yang membuatku nyata dalam pikiran, perbuatan dan kehidupan.
Langganan:
Komentar (Atom)

