Annisa Rahmayanti
Panggil aku di saat kau sedang merasa sendiri. Carilah aku di saat kau membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Salahkan saja aku bila kau melakukan hal yang salah karena aku pantas untuk itu. Aku yang sendiri dalam ilusiku. Mengejar sebuah harapan yang tersisa. Namun ternyata tanpamu, aku tak mampu melangkah untuk mendapatkannya.
Aku Clay, gadis 15 tahun yang selalu didera kesepian. Hidupku sendiri, terasa sepi dan tak berarti. Setiap malam aku selalu berkhayal. Membayangkan bagaimana wajah mamaku dan di mana dia berada. Sejak aku kecil, aku belum pernah mengetehui siapa mamaku. Masih hidupkah dia? Aku terlanjur terlarut dalam kebingungan.
Setiap hari aku tak pernah tidur lebih dari 3 jam. Aku selalu menangis bila memikirkan Mama. Aku berjanji akan mencari dia sampai ketemu. Sekali pun dia bersembunyi di puncak Everest. Puncak dari segala puncak. Puncak kegelisahan, puncak kesedihan, puncak kedamaian, puncak kebahagiaan dan puncak kemarahanku.
Malamku tak pernah sepi dari teman –teman Kak Jane. Kakakku yang selama ini mengurusku. Kak Jane dan teman – temannya
1
selalu begadang di kontrakan kami. Mereka selalu mendengarkan lagu dugem sambil merokok dan meminum beberapa minuman keras. Kak Jane tak
pernah memikirkan apa yang aku pikirkan. Setiap aku menanyakan Mama, dia selalu bilang “Nggak usah mikirin Mama. Dia sudah mati!” sambil membentakku.
Aku selalu mencoba bersabar setiap kali ada orang atau para tetanggaku yang menghinaku sebagai anak buangan, anak bodoh, pencuri kecil, autis bahkan anak haram sekalipun. Buatku hinaan mereka tak lebih dari lolongan anjing yang kelaparan.
Sampai sekarang aku tak punya seorang sahabat pun, aku tak tahu bagaimana rasanya bertukar pikiran dengan orang lain. Tak ada seorang pun yang bisa memahamiku. Tak ada seorang pun yang paham bagaimana sifatku, selain diriku sendiri.
Sore itu aku pulang dari sekolah, Aku bertemu dengan seorang gadis berkulit putih dan berambut panjang yang mengenakan gaun bermotif bunga – bunga dengan sepatu flat hitam dan tas kain biru laut yang barangkali sedang menunggu bus di halte dekat kontrakanku. Dia melihat ada pensil jatuh dari tasku. Dengan senyum manisnya, dia memanggilku.
2
“Hei, pensilmu jatuh. Ini.” Sambil menyodorkan pensilku yang jatuh tadi.
“Oh, terima kasih. Namamu siapa?” tanyaku.
“Sera Ativva. Kamu siapa?”
“Clay.” Jawabku singkat.
Dari pertemuan yang tak pernah terduga terduga itu, kami akhirnya berteman. Sera juga berusia 15 tahun, sama sepertiku. Kami bertukar cerita, berbagi suka dan menangis bersama. Dia periang, juga perasa. Rumahnya sekitar 5 kilo meter dari kontrakanku. Dia anak semata wayang dan hanya tinggal dengan Ibu dan sepupunya. Ayahnya telah meninggal karena kecelakaan pesawat dan itu membat Sera takut bila harus pergi naik pesawat. Dia suka mengeluh kepadaku karena merasa hidupnya dipenuhi kesedihan, sama sepertiku. Mungkin karena banyak kesamaan, kami merasa nyaman bila sedang menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang pasti, menemukan sahabat itu bagaikan terbang ke bulan.
***
“Clay, bagaimana kalau suatu hari nanti aku kehilangan kamu?” tanyanya pada suatu sore saat kami sedang bersantai di kamarku.
3
“Kamu kenapa, Ra? Kok tanya gitu sih? Mukaku udah kayak tanah kuburan ya?” jawabku sambil bercanda.
“Aku cuma nggak mau jauh dari kamu. Aku cuma takut kehilangan kamu.” Dia menatapku, matanya berkaca – kaca.
“Tenang saja, aku tak pernah punya niat untuk sebentar saja meninggalkanmu. Kamu harus tahu itu..” Aku memeluk Sera. Dia menangis di pundakku. Aku mencoba menghiburnya walaupun aku tak tahu pasti hal apa yang membuatnya menangis.
Kejadian itu seolah mengubah Sera menjadi pendiam. Jarang sekali Sera tertawa seperti saat – saat pertama aku mengenalnya. Suatu malam berbulan purnama, aku menginap di rumah Sera karena Kak Jane akan mengadakan pesta dugem di kontrakanku. Di kamar dengan nuansa pink itu, suasana yang dingin menambah heningnya malam. Sera menyetel lagu – lagu jazz untuk menenangkan hatinya. Tak ada obrolan yang berarti sebelumnya. Akhirnya aku angkat bicara.
“Ra, akhir – akhir ini aku melihatmu selalu bersedih. Di mana senyummu yang dulu kau bagikan pada semua orang? Apa ada masalah?”
Dia hanya menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke luar
4
jendela. Memandang ke arah langit yang dihiasi oleh bulan yang bersinar penuh.
“Clay..” kata Sera beberapa menit setelah mendengar kata – kataku sambil tetap memandang ke arah langit.
“Kenapa?”
“Maaf kalau selama ini aku sudah menyusahkanmu” katanya. Aku hanya mengangguk karena bosan mendengar kata maaf darinya. Sera selalu meminta maaf tentang banyak hal kepadaku tetapi aku tak merasa dia pernah bersalah kepadaku.
***
Bulan Mei, Kak Jane pergi ke luar kota. Dia membiarkan aku sendirian di kontrakan karena memang ada urusan pekerjaan. Selama dia pergi, Sera juga menghilang, entah ke mana. Aku mencoba menghubunginya, tetapi tak ada jawaban. Seminggu telah berlalu. Perasaanku galau, gundah gulana. Akhirnya aku menelpon Kak Jane karena aku kangen dia.
“Kak, kapan pulang?” tanyaku.
“Ah, kamu ngapain si telpon aku? Nanti juga pulang sendiri
5
kok. Udah sana belajar. Janggan ganggu.” Nadanya ketus.
“Aku cuma kangen sama Kakak.” Kak Jane terdiam lalu dia berkata.
“Aku juga kangen kamu.” Telponnya terputus. Aku senang mendengar kata yang jarang diucapkan Kak Jane. Walaupun setelah itu dia mematikan telponnya. Hari yang sepi aku lalui dengan apa adanya. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di relung hatiku.
Jumat kelabu. Masih jelas di pikiranku saat hawa dingin menusuk kalbu. Saat kristal bening menetes di pipi, saat suasana hening dan saat tubuh membeku. Sore itu, semua orang mengerumuni tubuh kecil tak bernyawa. Jeritan menjadi nada duka ketika darah mengalir deras. Aku terdiam tak mampu bergerak. Tanganku gemetar dan kakiku tak mampu melangkah. Sera tergeletak tak bernyawa di dekat halte depan kontrakanku. Dia tertabrak bus saat hendak menyeberang jalan. Aku tak kuasa menerima kenyataan ini. Aku tak mampu berkata – kata. Apalagi saat mendengar kabar bahwa Kak Jane kecelakaan. Mobilnya menabrak pohon karena dia menyetir sambil mabuk. Aku segera ke rumah sakit. Batinku terguncang, langkahku tertatih, nafasku terhela dengan sangat terpaksa. Rasanya seperti luka yang diberi garam. Sakit sekali.
6
“Tuhan, kuatkan aku. Lindungi kakakku.” Doaku dalam hati.
Di ICU, aku menemukan Kak Jane tak bergerak. Namun dia masih sadarkan diri. Aku mendekatinya, menatapnya penuh harapan. Kutahan sekuat hatiku agar tak menangis di depan Kak Jane. Aku malu bila dicap sebagai anak cengeng.
“Kak, jangan tinggalkan aku sendiri.” Kataku. Kak Jane menatapku. Membelai rambutku dengan kekuatannya yang masih tersisa.
“Dengarkan aku, Clay. Mama yang selama ini kau cari dan kau rindukan adalah aku. Aku sayang, aku mamamu.” Kata Kak Jane sambil terbata – bata. Seketika hening. Aku tak percaya. Lalu dia meneruskan kata – katanya.
“Carilah nenekmu. Dia bernama Carla dan katakan padanya bahwa kau adalah anakku.” Sambil memberiku secarik kertas bertulis alamat. “Maafkan aku sayang. Aku tak mampu membahagiakanmu. Ayahmu bernama Clay. Namun aku tak tahu di mana dia berada.” Semua yang kudengar sangat jauh di luar pikiranku. Hatiku seketika hancur mendengar semuanya. Aku tak percaya. Rasanya salju di puncak Everestku meleleh. Membanjiri hati yang sudah lama mati.
7
“Mama?” kataku lirih.
Perempuan berambut pirang yang selama ini aku panggil Kak Jane, yang hobinya dugem dan mabuk – mabukan adalah mamaku yang selama ini aku nantikan kehadirannya. Ternyata aku tak usah pergi jauh sampai ke Puncak Everest. Sungguh, jantungku seakan berhenti berdetak. Terlalu keras guncangannya terasa di dalam jiwaku.
“Clay, kau tak ingin mencium Mama?” tanya Mama.
Tanpa pikir panjang, aku membelai rambutnya dan mencium pipi kanannya. Dia tersenyum, parasnya berubah menjadi anggun. Tak kutemukan lagi dunia malam dalam sorot matanya. Dia tersenyum manis sekali.Tetapi itu adalah senyum terakhirnya. Aku menjerit dalam keheningan. Memecahkan belenggu kedamaian. Tetapi sayang, tak ada satu orangpun yang mendengarnya.
***
Seminggu setelah kepergian kedua orang yang paling berharga dalam hidupku, aku menemukan secarik surat yang tergeletak di depan pintu kontrakanku. Tak ada nama pengirimnya.
8
Untuk Clay, cahaya penerangku…
Tak ada satu kata pun yang mampu menafsirkan kata hatiku akan dirimu selain maaf dan terima kasih. Kau telah memberikan arti di dalam hidupku yang sempit ini. Aku harus pergi bukan meninggalkanmu, namun hanya terlepas darimu. Jika kau yakin akanku, maka memang inilah cara yang terbaik untuk dilalui. Aku ingin kau menemukan semua yang masih menjadi misteri dalam hidupmu. Walaupun aku tahu, semua misteri itu takkan pernah ada habisnya.
Puncak Everestku, 12 Mei
Dua belas Mei. Hari meninggalnya Sera, sahabat baikku. Udara masih dingin pagi itu, tetapi ada hawa lain yang mencoba mendekatiku. Seolah olah ada tawa Sera di sana. Surat itu dari Sera. Aku merinding dan bergegas masuk ke kamar. Semua baju favoritku dan barang – barang berhargaku aku masukkan ke dalam tas ransel. Kuputuskan untuk memberanikan diri pergi ke rumah Nenek dengan berbekal keinginan yang kuat, foto Mama dan uang yang tersisa di lemari.
Beberapa jam setelah aku menyusiri daerah itu berkali kali, akhirnya aku menemukan rumah mungil bercat putih, bergaya klasik
9
dan terlihat sangat asri. Di halamannya yang cukup luas, ada seorang nenek dengan rambut sedikit beruban. Dia sedang menyirami bunga Lily putih yang indah.
“Permisi, Nek?” sapaku. Dia berjalan menghampiriku.
“Ada yang bisa nenek bantu? Sini masuk anak cantik.” katanya dengan tersenyum. Dia sangat ramah.
“Mmmm.. Nenek kenal dengan dia?” aku memberikan selembar foto Mama.
“Jane ?” Dia menatapku heran. “Dia Jane khan?”
“Iya, Nek. Dia Jane dan aku adalah anaknya.”
“Kau cucuku?” Dia memegang tanganku dengan erat. Menatapku dalam – dalam lalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Sedangkan aku hanya terdiam membisu. Di dalam hatiku ada rasa merdeka karena telah berhasil menemukan Ibu Carla alias nenekku. Aku kira dia akan mengusirku dan tak memperdulikanku. Tetapi ternyata dugaanku salah. Nenekku adalah nenek paling baik sedunia.
Sekarang aku tinggal dengan dia. Di rumah yang sangat
10
nyaman. Hidupku membaik dan aku menemukan banyak teman baru di sekolahku yang baru. Tetapi satu yang pasti, aku takkan melupakan Sera. Seminggu sekali aku juga pergi mengunjungi makam Mama dan makam Sera bersama nenekku. Walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumah nenek, aku tak pernah melewatkan hari-dimana-aku-tak-pergi-ke-makam-mama. Kami selalu menaruh setangkai bunga Lily putih kesukaannya. Aku sangat menyayangi mamaku walau pertemuan sekaligus perpisahan kami tak lebih dari satu jam. Tetapi inilah jalan terbaik yang harus aku hadapi.
Rasanya aku sedang dilanda musim semi. Bunga – bunga yang indah warna – warni bermekaran di sudut – sudut hati. Satu pencarianku berakhir. Tetapi sekarang atau nanti aku akan mencari Papaku, Clay Sinegar.[B]
Lembayung Senja, Mei 2011
11
Rabu, 01 Juni 2011
Langganan:
Komentar (Atom)

