Aku adalah luka, trauma, depresi, stress, beban dan semua keterpaksaan yang ada. Aku hidup dengan orang tua dan dua orang adik yang masih kecil. Sebagai anak pertama, aku selalu dituntut oleh orang tuaku untuk menjadi contoh yang baik bagi adik – adikku. Aku selalu mencobanya. Setiap waktu yang kulalui, kugunakan untuk itu. Namun, apa yang terjadi? Semua itu salah. Semua yang kulakukan tak ada gunanya. Aku disini, hanya berperan sebagai benalu yang selalu disalahkan oleh mereka, yang mengaku telah membesarkanku sampai aku kini duduk di kelas 9 di SMP Tunas Harapan. Aku kesepian, aku lelah dan menderita tinggal bersama mereka.
Hampir setiap malam dirumahku hanya ada gertakan, keributan dan suara tangis adik – adikku yang sangat kencang. Dan itu membuat aku telah terbiasa berada diantara kerumunan itu. Saat semua mulai meredup, aku terdiam dikamar, mencoba memahami apa yang terjadi dengan keluargaku ini. Sudah sepantasnya untuk aku mengetahui masalah – masalah yang sedang bernaung di hati orangtuaku itu. Mungkin saja aku bisa meringankan sedikit beban yang juga berimbas padaku. Tapi apa yang mereka lakukan setiap aku berusaha mencari alasan itu? Diam. Dan sama sekali tak memperdulikanku. Sampai suatu saat aku benar – benar ingin mati dibuatnya. Aku ingin menjadi hantu saja. Percuma aku menjadi bagian dari keluarga itu, karena setiap saat, mama dan papa seolah tak melihatku ada disana bersama mereka. Seolah – olah yakin bahwa aku tak ada disana bersama mereka.
Aku bosan seperti ini. Aku lelah berada disini. Aku ingin seperti anak – anak lain, yang masih bisa menikmati indahnya dunia. Aku ingin sekali diperhatikan oleh orangtuaku. Namun aku mungkin telah kehabisan cara untuk mencoba mendapatkan seditik respon dari mereka. Atau mungkin mereka yang terlalu sibuk dengan urusan orang dewasa dan urusan keuangan rumah tangga, sehingga tak ada waktu lagi untuk sekedar makan malam bersama. Apa ini masih layak disebut keluarga? Aku selalu bertanya pada hati kecilku. Apa yang harus aku perbuat? Aku bingung, aku takut dan aku gelisah. Aku seperti hilang dari jalan hidup orangtuaku. Aku seperti hidup tanpa mereka. Aku sendiri, seperti tak memiliki keluarga. Tak memiliki dukungan dari orang yang seharusnya manjadikan aku nomer satu di hidupnya. Aku selalu ingin menangis. Sampai suatu hari, dimana semua amarah dan kebencian bersatu, dimana semua keinginan untuk meledak – ledak berkumpul di dalam hati. Dendam, murka, kacau.
"Kamu itu sudah berkeluarga! Seharusnya bisa menjaga hati suamimu ini! Bukan malah berduaan di kantor dengan lelaki yang bukan muhrim itu! Kurang apa aku ini? Kurang apa? Setiap kamu minta uang untuk foya – foya, apa pernah aku menolak untuk memberimu uang? Setiap kamu nggak mau ngelayani aku, apa pernah aku maksa – maksa kamu untuk itu?" bentak papa yang barusan mendengar kabar kalau mama berduaan dengan seorang lelaki di kantornya. "Dengerin aku dulu mas. Dia itu cuma rekan kerja, sebatas itu aja. Kenapa sih, Mas selalu nyalahin aku kalau urusan seperti ini? Kenapa selalu percaya sama omongan orang lain?" Mama mencoba membela dirinya.
"Jelas aku lebih percaya orang lain dari pada kamu! Coba kamu hitung sendiri, sudah berapa kali aku negur kamu gara – gara urusan macam ini?"
"Seharusnya, Mas ngaca dong! Berapa kali, Mas jalan dengan perempuan – perempuan cafĂ© itu? Dan.."
"PLAK..!!" belum selesai Mama dengan kalimat – kalimatnya, sebuah tamparan mendarat di pipi mama yang selalui dihias dengan make up.
"Kamu? Dasar istri kurang ajar! Nggak tahu malu ya kamu!" lagi – lagi papaku meledak – ledak. Kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Dan aku sudah benar – benar ingin berteriak, menangis, dan menyadarkan mereka atas perbuatan mereka yang tak pantas menjadi tontonan kedua adik – adikku. Aku menyesal telah menjadi bagian dari keluarga ini. Sambil menangis, Mamaku mencoba mengungkapkan semuanya.
"Ceraikan aku, Mas. Aku sudah nggak kuat hidup dengan kamu."
"Wanita murahan! Berani sekali kamu…"
"Diam!! Aku benci kalian! Kalian bukan orang baik! Kalian jahat!" Akhirnya aku berhasil membuat hati mereka tergerak. Aku hanya takut sesuatu yang fatal terjadi. Aku takut adik – adikku menjadi depresi dan rendah diri karena peristiwa yang barusaja mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri.
Mamaku berlalu ke kamar. Aku hanya terdiam di tempatku berdiri. Aku mencoba mengatur emosiku, tapi aku benar – benar tak kuasa. Kuputuskan untuk mencari udara di sekitar rumah. Mungkin dengan berkeliling kompleks, jiwaku bisa sedikit tenang. Aku berharap, menemukan teman yang bisa menghapus keluh kesahku. Dan ternyata, doaku terkabul. Aku melihat seorang perempuan seusiaku di ayunan taman. Baru sekali ini aku melihatnya ada di kompleks rumahku. Aku berpikir, mungkin ini teman yang dikirimkan malaikat Tuhan untuk menemani langkahku yang mulai merapuh.
"Hai..?" sapaku.
"Hai juga. Kenalin, aku Bella."
"Aku Ira,Nabira..Senang bisa kenal kamu."
"Aku juga."
" Sekarang kita teman kan?" "Iya, pasti." Bella tersenyum. Aku beruntung bisa bertemu dengan Bella sore ini. Aku sekarang punya teman. Yang mungkin bisa menjadi tempat untuk berbagi. "Rumahmu nomer berapa? Aku baru dua hari tinggal disini." Kata Bella.
"Oh, nomer 4. Yuk, kapan – kapan main kerumah." Ajakku.
"Oke, sip. Nggak terlalu jauh dari rumahku ya? Aku nomer 10." Tak lama setelah itu, aku dan Bella sudah sangat akrab. Apalagi setelah tahu bahwa Bella bersekolah di sekolah yang sama dengan aku. Aku seperti dihidupkan kembali olehnya. Dari sinilah semua keterpurukanku mulai membaik. Aku senang bisa mengenal dia. Dan aku akan menyayanginya. Bella dapat mengerti diriku. Dia sangat baik, walaupun terkadang dia selalu menyuruh ku untuk ini dan itu. Namun semua itu aku lakukan, aku lakukan dengan semaksimal mungkin karena aku sayang Bella. Setiap hari, aku selalu pergi bersama Bella. Aku selalu tersenyum dan bercanda dengannya. Tak ada kesedihan dan kesepian kala itu. Semuanya indah dimataku. Dan aku mulai acuh dengan keluargaku, yang semakin hari semakin parah. Sahabat adalah orang nomer satu. Sahabat adalah cinta yang besar. Sahabat adalah segalanya. Sahabat adalah udara untuk hidup, menghidupkan hidup agar lebih hidup, mewarnai kehidupan, dan hidup yang menyenangkan. Sahabat adalah cahaya dikala gelap, obat dikala sakit, senyum dikala sedih, tali saat mulai terurai, harapan dikala goyah, menghangatkan dikala dingin, menyejukkan dikala terik, ketulusan, kejujuran, anugrah dan sangat berharga. Aku sayang kamu, Bella.
"Ra, kita ke mall yuk. Sapa tahu ada barang bagus." Kata Bella siang itu.
"Oke. Emang mau cari apa sih, Bel?" jawabku sambil menyiapkan semuanya.
"Apa aja deh, tapi yang gratis ya?"
"Hehhehhe,"aku tertawa kecil. "Jadi aku yang bayar nih?" tanyaku.
"Seperti biasa, Sayang. Oke ?"
"Iya deh, apa sih yang ngga buat orang yang paling berarti di hidupku?" kataku sok puitis. Dan kamipun pergi.
Sudah hampir satu tahun aku selalu bersama Bella. Bahkan kami layak disebut sebagai buah pinang yang dibelah dua. Kami sangat mirip, mulai dari gaya rambut, gaya bicara, cara berpakaian dan barang – barang yang sama. Dan aku masih sangat bangga dengan dia, sampai pada suatu hari, temanku, Putri menceritakan rahasia dibalik semua ini. "Ra, kamu cuma dimanfaatin sama Bella. Maaf baru bisa bilang ke kamu sekarang. Aku takut, Ra. Tapi lama – lama aku juga nggak bisa ngeliat kamu gini terus." "Maksudnya apa Put? Manfaatin gimana sih?" tanyaku heran.
"Selama ini, kamu kan yang ngebiayain kebutuhannya Bella? Misalnya kayak ngebayarin Bella nonton, mbeliin Bella baju, pergi sama Bella dan selalu kamu yang ngeluarin uang. Sadar nggak?" celoteh Putri.
"Aku nggak tahu, Put. Wajar aja kali, kan Bella sahabatku."
"Tapi apa kamu tahu, Bella itu sering banget ngomongin keburukanmu sama teman lain. Dia juga pernah bilang ke aku, kalo sebenernya kamu itu anak hasil dari main serongnya mama kamu." Aku nggak percaya. Benar – benar tak bisa berbuat apa – apa lagi. Aku merasa sangat ingin marah, tapi pada siapa seharusnya aku marah? Pada diriku sendiri karena aku bimbang? Pada Putri karena dia mencoba membuatku ingin menangis? Pada Bella yang masih menjadi orang terpenting di hidupku? Atau pada mamaku yang masih setia pada papa? Batin ini terguncang lagi. Jiwaku bergumuruh, semuanya berubah menjadi kacau.
Kristal bening itu jatuh, membasahi hati yang sudah lama kering. Aku benar – benar sulit untuk menilai mana yang benar adanya. Dan aku benar – benar ingat dengan peristiwa malam itu, saat Putri mencoba membuktikan semua yang pernah dia ucapkan padaku. Putri mengajakku kerumahnya. Dirumahnya, ada sebuah telefon parallel yang masih berfungsi. Dan ketika salah satu telfon itu digunakan, maka telfon yang tidak bekerja dapat mendengar isi percakapan dari orang yang sedang kita hubungi. Dengan cara itu, Putri membuktikan semuanya. Ketika Putri menelfon Bella, aku sangat berhati – hati mendengarkan mereka.
"Halo, Bella?" Putri mengawalinya.
"Iya, kenapa, Put? Tumben banget nih." Jawab Bella dengan nada yang datar.
"Aku cuma mau tanya aja. Ngeganggu nggak nih?" "Santai aja. Apaan?"
"Tentang Nabira." "Kenapa, Put?"
" Sebenernya, kamu sama dia tuh udah berapa lama sahabatan? Trus, enak nggak sih punya sahabat kayak dia?"
"Hampir setahun kali ya? Bodo amat ngga aku hitung. Ya… gimana lagi? Aku ya happy – happy aja gitu. Dia kan hartaku." Kata Bella dengan santai. Dan kata – katanya itu, sudah mulai melukaiku. "Oh, gitu ya?" kata Putri.
"Kalo bukan karena uangnya, ngapain sih aku mau nemenin dia kemana – mana? Anak broken home gitu nyusahin banget." Nadanya meremehkan.
"Wah, berarti selama ini istilahnya kamu cuma manfaatin dia gitu?"
"Ya jelas. Hahhahha" jawabnya santai.
"Owh..hmm..kalau kamu mau tau, Bel. Sekarang Nabira denger apa yang barusan kita omongin. Kamu binatang ya! Nggak bisa mikir ? Nggak bisa ngerasain? Dia itu sayang sama kamu. Hebat ya bisa acting sampai kayak gini. Wuih! Kelihatan real banget ya kamu. Jago ya. Belajar dimana? Dasar!" kata Putri masih dengan nada santai.
"Heh! Maksudnya apa sih?" Bella mulai marah. Dan aku yang terisak, mencoba berbicara dengannya. "Makasih buat semuanya, ya Bell. Susah banget ya cari seseorang yang bisa bener – bener sayang sama aku? Bukan karena semua yang aku miliki sekarang, bukan karena terpaksa, tapi karena dia benar – benar ingin untuk mengerti aku. Makasih selama ini udah nemenin aku. Trus, spesial makasih buat Bella! Yang udah berhasil mbuat aku down, gak berguna, en pengen banget sama yang namanya ngebunuh kamu! Puas sekarang? Ato masih ada perlu lagi sama uangku? Aku benci kamu!!" Aku mengakhiri percakapan itu. Tangisku meledak, dan rasanya susah sekali untuk menghirup udara. Kacau, semuanya hancur, ada kiamat kecil dihatiku. Yang barusaja memusnahkan apa saja yang ada di dalamnya.
"Ra, sabar ya." Aku merasakan hangatnya tubuh Putri yang mendekapku. "Sebenarnya, aku udah lama pengen kenal kamu lebih deket. Cuma aku takut, kamu nggak suka sama aku. Aku kan cuma anak biasa gini. Tapi aku sebelumnya juga mau minta maaf, kalau aku telat untuk ngasih tahu semuanya." Kata Putri.
"Makasih, Put." Jawabku singkat. Aku masih menangis. Aku benar – benar depresi. Seketika muncul hasrat untuk mengakhiri hidup, namun aku masih cukup sadar bahwa itu adalah salah. Dan aku tak ingin berbuat salah lagi.
Berhari – hari aku mengurung diri di kamar. Aku membolos dan tak pernah beranjak dari tempat tidur. Aku hanya terbaring, merasakan kehampaan yang merajarela dan sama sekali tak menyentuh makanan, apalagi air. Beginilah aku yang sekarang,tapi walaupun aku seperti ini, tak ada seorang manusiapun yang mau mengerti aku. Mama dan papa mungkin tak sadar aku ada di kamar. Mereka mungkin mengira aku ada di tempat Bella, seperti biasa. Caraku sudah benar – benar habis. Air mataku telah terkuras karena semua ketidak adilan itu. Aku ingin mati! Aku menyesal telah dilahirkan!
"Tok..tok..tok.." ada yang mengetuk pintu kamarku.
"Ra, aku boleh masuk nggak?" itu suara Putri. Aku segera menuju pintu, dan membiarkan Putri masuk.
"Jangan gini terus dong. Aku nggak mau ngeliat kamu jadi gini. Nggak masuk sekolah, ngunci diri dikamar, nangis setiap hari. Ayo dong, Ra. Aku ada disini buat nemenin kamu. Aku bakal ada buat kamu, Ra." Kata Putri.
"Aku trauma sama sahabat."
"Hmm," Putri bergumam, "Ya udah deh, mungkin kamu masih butuh waktu buat nenangin diri, maaf udah ngeganggu. Aku pamit ya. Jangan lupa besok berangkat sekolah. Sebentar lagi kita UAN. Jangan lupa mandi, rambutmu yang bagus itu nanti rusak loh, kalo nggak kamu rawat, jangan lupa maem ya. Aku percaya kamu mau ngelakuin semua yang aku bilang barusan. Jangan buat aku sedih, Ra. Aku pengen kamu jangan nyerah gitu aja. Diluar sana, masih banyak orang yang mau peduli sama kamu. Jangan buat aku nggak tenang ya, Ra. Aku pulang dulu." Kata Putri panjang lebar.
"Makasih, Put. Hati – hati ya." Putri tersenyum manis sekali, lalu Ia berlalu. Sebenarnya aku ingin Putri masih bersamaku disini. Tapi aku terlambat menyusulnya.
Beberapa jam setelah Putri menghilang dari sudut pandangku, aku mendengar kabar, bahwa Putri kecelakaan. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Tentu saja air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku meleleh, aku tak kuasa dan aku benar – benar menyesal. Pada siapa aku harus bertanya? Mengapa ini terjadi terlalu cepat? Bahkan aku sama sekali belum pernah memberikan apa – apa untuk Putri. Kenapa bukan aku saja yang meninggal? Kenapa harus Putri? Kenapa dia pergi saat aku benar – benar butuh sahabat seperti dia. Aku kehilangan waktu, kehilangan Putri, kehilangan, benar – benar merasa kehilangan. Aku terpuruk dan teraniaya sepi, sendiri, disini. Pada siapa aku harus mengadu jika aku rindu dengan sosok mungil itu? Putri, aku ingin kau tetap disini. Jangan pergi.
Jumat, 23 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar