Sang fajar kembali tersenyum pagi ini. Mengantar kerinduan pada kampung halamanku. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Romo Joko dan Biyung Asih. Besuk aku libur cukup panjang, tak ada salahnya jika aku pulang ke Yogya. Segera saja aku mengambil kunci motor di atas meja. Dan pergi ke pusat oleh – oleh daerah Tebet Raya Jakarta Selatan, sebelum akhirnya aku pergi kerja. Tak sabar rasanya bertemu dengan keluargaku di Sleman
Nggak kerasa hari ini telah kulalui dengan sempurna. Semua pekerjaanku selesai dengan cepat. Hasil – hasil fotoku nggak ada yang burem. Alhamdulillah, nggak jadi ngelembur. Pekerjaanku selama tiga tahun ini adalah fotografer sebuah majalah massal yang beredar di kampus IKJ. Isinya tentang semua yang aku lihat di
Subuh telah membangunkanku dari dunia maya yang kujalani dengan mimpi. Hari ini aku sangat bersemangat. Setelah marapikan kamar, mencuci motor dan berkemas, Aku berpamitan dengan Ibu kos ku yang baik hati dan penyayang, sekaligus menitipkan seperangkat motor. Bus membawa aku melangkah meninggalkan
" Mau ke Yogya ya mbak ? " Tanyaku sok akrab.
" Iya. Pulang kampung, Mas. Kalo Masnya mau pulang juga, apa main ? " Jawabnya ramah. Wajahnya familiar banget. Tapi siapa ya?. Lalu aku berkata
" Mau pulang juga. Em.. mbak namanya siapa ya ? Kelihatannya kita udah pernah ketemu sebelumnya. "
" Saya Ekha. Mas-nya siapa ? "
" Saya Sae.. Ekha – Ekha, yang dulu sekolah di SMU 7 Jogja itu ya ? "
" Oh, Sae. Apa kabar ? " katanya sambil memegang pundakku.
" Sae sae aja.* " candaku.
Percakapan ini dihiasi tawa kecil kami yang terdengar gembira. Pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja ini, ternyata membuat Aku dan Ekha ber-nostalgia bersama. Tak lama kemudian, Bus yang aku tumpangi sampai di Yogya. Aku turun di terminal Jombor. Bersama Ekha yang kebetulan rumahnya berdekatan denganku. Kami naik bus yang sama, turun Monjali dan jalan sekitar 1 kilo-an. Setelah Ekha dan aku berpisah di pertigaan, tidak terasa sampailah aku pada rumah tercinta. Aku melihat adik – adikku sedang menyirami tanaman Biyung di halaman rumah. Assalamualaikuim? Kataku sambil membuka pintu gerbang. Waalaikum salam.. Jawab adik – adikku dengan serempak. Tubuh – tubuh mungil itu berlari ke arahku sambil tertawa memanggilku. Suara hebohnya membuat Romo dan Biyung ikut menghampiri kami di halaman rumah.
Pertemuan ini indah. Pelukan mereka membuatku trenyuh. Apalagi Biyung menangis.
Buah tangan untuk mereka telah kupersembahkan. Walau tak terlalu mewah, mereka tetap terlihat senang. Karena aku tahu mereka tidak memerlukan kemewahan. Yang penting hallal dan bisa bermanfaat. Aku bercengkrama dengan keluargaku di ruang tengah. Tiba – tiba Biyung bertanya padaku.
" Piye,nang ? kamu sudah dapat calon belum ? "
" Ya lagi dalam tahap pencarian tho buk. " jawabku setelah meneguk segelas air.
Adik – adik ku sedang asyik bermain sambil menonton acara TV kesukaan mereka.
" Lha kamu itu piye tho ? Romomu ini sudah ndak sabar pengen ngemong cucu." Kata Romo menyambung pembicaraan. Karena bingung, langsung saja aku menceritakan Ekha. Teman lama yang kutemui di Bus tadi. Dia adalah putri dari teman Romoku. Sewaktu SMA dulu, aku sebenarnya sempat mengagumi Ekha, namun aku tak berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Biyung bilang, dia sudah ada yang punya. Wah, gagal lagi niatku untuk melakukan PDKT dengan anak pak RT itu.
Malam pertama di rumahku. Ayu dan Srikandi sedang melihat bintang di teras. Biyung dan Nirwana sedang memasak di dapur. Romo sedang pergi ngaji di masjid kampungku. Sedangkan aku… masih merenungkan pertanyaan Biyung tadi sore, sembari merasakan aura Yogya yang tak akan pernah ditemukan di Jakarta. Ternyata semakin dewasa, semakin banyak pula masalah yang harus aku hadapi dengan lapang dada. Aku selalu memohon pada Allah agar aku segera dipertemukan dengan wanita yang hallal bagiku seorang. Tenang sajalah, jodoh
" Le, kowe iki
Romo, Romo. Sebenarnya aku belum siap berkeluarga. Tapi, bagaimana lagi? Ya sudah, aku bakal nyari calon istri besuk pagi. Mungkin gadis - gadis Yogya tulen yang akan menjadi Soulmate ku.
Kokokan ayam membangunkanku. Sudah lama aku tak mendengar suara Jalo, ayam jago milik Romo, yang sudah berumur 7 tahun itu. Hari ini aku akan menjalani hari sesuai niatku. Mencari calon istri, di jantung
" Em… Ini lo Buk, Pak, gadis yang bakal jadi calonku. "
" Sugeng enjang, Pak, Buk ? " Sapa Risma dengan ramah.
" O, ini tho. Ayu banget lho. Namanya siapa, wuk ? " Tanya Biyung pada Risma. Percakapan ini terlihat semakin akrab. Tehmanis hangat ikut berperan pada kali ini. Mungkin bulan depan aku akan mempersiapkan wedding party. Akhirnya, jodohku ketemu juga. Alhamdulillah, matur nuwun Ya Allah.
Sebulan telah berlalu. Aku belum kembali ke
Pakaian adat Jawa tetap menjadi andalan dalam acara ini. Macam – macam acara Jawa pun aku lakukan, bersama Risma. Acara ini meriah. Walau perasaan ku masih tak tenang untuk kedepannya. Semua tamu undangan memenuhi lapangan golf Hotel yang aku sewa. Memang sengaja kami membuah pesta Out door. Kebetulan cuaca mendukung, jadi acara ini berjalan seperti rencana. Sekitar tiga jam aku duduk dan didandani seperti orang Jawa. Eh, memang aku orang Jawa, hehehe. Lepaslah ke risauan mencari istri. Akhirnya Risma menjadi seseorang yang halal bagiku. Inilah yang aku dapat atas kesabaranku. Aku, Sae Arjuna akhirnya menjalani hidup dengan Risma, Mengontrak sebuah rumah di
Tahun ini aku memutuskan untuk pindah ke Kota Yogya. Menjalani hari di
KAMUS
Romo : Bapak, dalam bahasa Jawa.
Biyung : Ibu, dalambahada Jawa.
Amburadhul : Acak – acakan
Sae – sae aja : Baik – baik saja.
Trenyuh : berkaca - kaca
Le, kowe iki
Wedding party : Pesta Pernikahan.
PDKT : Pendekatan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar