Jumat, 23 Oktober 2009

menanti istri

Sang fajar kembali tersenyum pagi ini. Mengantar kerinduan pada kampung halamanku. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Romo Joko dan Biyung Asih. Besuk aku libur cukup panjang, tak ada salahnya jika aku pulang ke Yogya. Segera saja aku mengambil kunci motor di atas meja. Dan pergi ke pusat oleh – oleh daerah Tebet Raya Jakarta Selatan, sebelum akhirnya aku pergi kerja. Tak sabar rasanya bertemu dengan keluargaku di Sleman sana. O,ya. Aku Sae. Dalam bahasa Jawa, namaku mempunyai arti bagus. Walau tak sebagus diriku, namun Romo dan Biyung telah berusaha mendoakan anak sulungnya ini. Karena Nama adalah doa. Aku memang tak pandai menulis, tapi setidaknya aku berani mencoba. Walaupun hasilnya Amburadhul*, kata Romo yang paling penting dalam menjalani hidup adalah niatnya. Niatku bagus kok. Hanya ingin membahagiakan orang tua yang kepingin punya anak seorang penulis. Sebagai anak laki – laki satu – satunya yang kelak bakalan jadi tulang punggung keluarga, aku akan membuktikan ke orang tua dan adik – adikku kalau aku bisa.

Nggak kerasa hari ini telah kulalui dengan sempurna. Semua pekerjaanku selesai dengan cepat. Hasil – hasil fotoku nggak ada yang burem. Alhamdulillah, nggak jadi ngelembur. Pekerjaanku selama tiga tahun ini adalah fotografer sebuah majalah massal yang beredar di kampus IKJ. Isinya tentang semua yang aku lihat di Jakarta ini. Kota Metropolitan yang macet, padat penduduk, dan apalah itu ?!. Selain bekerja, niatku pergi ke Jakarta ini adalah mencari pujaan hati. Hihihi.. Aku berharap bisa membawa pulang gadis Jakarta tahun ini. Namun setelah ku pikirkan lagi, aku tak bisa menemukan pilihan dari beribu – ribu wanita Jakarta yang relatif borju. Berkali – kali aku putus cinta, berkali – kali pula aku dicap sebagai playboy di kantorku, tempat redaksi – redaksi majalah ' My Country ' berkumpul.

Subuh telah membangunkanku dari dunia maya yang kujalani dengan mimpi. Hari ini aku sangat bersemangat. Setelah marapikan kamar, mencuci motor dan berkemas, Aku berpamitan dengan Ibu kos ku yang baik hati dan penyayang, sekaligus menitipkan seperangkat motor. Bus membawa aku melangkah meninggalkan kota Jakarta dengan semua keramaiannya. Ber jam – jam aku duduk di bus ber AC jurusan Jakarta – Yogya ini. Duduk bersebelahan dengan seorang wanita cantik yang tampaknya seumuran denganku. Dari pada bosan, lebih baik aku mengobrol dengan mbak – mbak sebelahku. Langsung saja aku mengawali percakapan itu.

" Mau ke Yogya ya mbak ? " Tanyaku sok akrab.

" Iya. Pulang kampung, Mas. Kalo Masnya mau pulang juga, apa main ? " Jawabnya ramah. Wajahnya familiar banget. Tapi siapa ya?. Lalu aku berkata

" Mau pulang juga. Em.. mbak namanya siapa ya ? Kelihatannya kita udah pernah ketemu sebelumnya. "

" Saya Ekha. Mas-nya siapa ? "

" Saya Sae.. Ekha – Ekha, yang dulu sekolah di SMU 7 Jogja itu ya ? "

" Oh, Sae. Apa kabar ? " katanya sambil memegang pundakku.

" Sae sae aja.* " candaku.

Percakapan ini dihiasi tawa kecil kami yang terdengar gembira. Pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja ini, ternyata membuat Aku dan Ekha ber-nostalgia bersama. Tak lama kemudian, Bus yang aku tumpangi sampai di Yogya. Aku turun di terminal Jombor. Bersama Ekha yang kebetulan rumahnya berdekatan denganku. Kami naik bus yang sama, turun Monjali dan jalan sekitar 1 kilo-an. Setelah Ekha dan aku berpisah di pertigaan, tidak terasa sampailah aku pada rumah tercinta. Aku melihat adik – adikku sedang menyirami tanaman Biyung di halaman rumah. Assalamualaikuim? Kataku sambil membuka pintu gerbang. Waalaikum salam.. Jawab adik – adikku dengan serempak. Tubuh – tubuh mungil itu berlari ke arahku sambil tertawa memanggilku. Suara hebohnya membuat Romo dan Biyung ikut menghampiri kami di halaman rumah.

Pertemuan ini indah. Pelukan mereka membuatku trenyuh. Apalagi Biyung menangis.

Buah tangan untuk mereka telah kupersembahkan. Walau tak terlalu mewah, mereka tetap terlihat senang. Karena aku tahu mereka tidak memerlukan kemewahan. Yang penting hallal dan bisa bermanfaat. Aku bercengkrama dengan keluargaku di ruang tengah. Tiba – tiba Biyung bertanya padaku.

" Piye,nang ? kamu sudah dapat calon belum ? "

" Ya lagi dalam tahap pencarian tho buk. " jawabku setelah meneguk segelas air.

Adik – adik ku sedang asyik bermain sambil menonton acara TV kesukaan mereka.

" Lha kamu itu piye tho ? Romomu ini sudah ndak sabar pengen ngemong cucu." Kata Romo menyambung pembicaraan. Karena bingung, langsung saja aku menceritakan Ekha. Teman lama yang kutemui di Bus tadi. Dia adalah putri dari teman Romoku. Sewaktu SMA dulu, aku sebenarnya sempat mengagumi Ekha, namun aku tak berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Biyung bilang, dia sudah ada yang punya. Wah, gagal lagi niatku untuk melakukan PDKT dengan anak pak RT itu.

Malam pertama di rumahku. Ayu dan Srikandi sedang melihat bintang di teras. Biyung dan Nirwana sedang memasak di dapur. Romo sedang pergi ngaji di masjid kampungku. Sedangkan aku… masih merenungkan pertanyaan Biyung tadi sore, sembari merasakan aura Yogya yang tak akan pernah ditemukan di Jakarta. Ternyata semakin dewasa, semakin banyak pula masalah yang harus aku hadapi dengan lapang dada. Aku selalu memohon pada Allah agar aku segera dipertemukan dengan wanita yang hallal bagiku seorang. Tenang sajalah, jodoh kan nggak kemana. Yang aku tahu hanya itu. Malam semakin pasi. Bintang – bintang bersembunyi di lengan awan. Ayu, Srikandi dan Nirwana sudah tertelap terbawa mimpi mereka. Aku masih duduk di ruang tengah. Mendengarkan ceramah dari Romo dengan sedikit menahan kantuk.

" Le, kowe iki wis gedhe. Wis wayahe njaluk di rabikke. Lha kok malah nyante – nyante. Lik ndang, nggoleka bodjo. Rak usah ayu – ayu. Sing penting imane kuat, pinter lan seneng karo awakmu.* "

Romo, Romo. Sebenarnya aku belum siap berkeluarga. Tapi, bagaimana lagi? Ya sudah, aku bakal nyari calon istri besuk pagi. Mungkin gadis - gadis Yogya tulen yang akan menjadi Soulmate ku.

Kokokan ayam membangunkanku. Sudah lama aku tak mendengar suara Jalo, ayam jago milik Romo, yang sudah berumur 7 tahun itu. Hari ini aku akan menjalani hari sesuai niatku. Mencari calon istri, di jantung kota Yogya, Malioboro. Setelah mengantar sekolah ketiga adikku,aku langsung menuju Malioboro dengan mengendarai sebuah mobil Terios Hitam milik Romo. Akhirnya, Aku bertemu dengan gadis manis teman lama sewaktu SMP dulu. Namanya Risma. Sejarah Risma dan aku, dulu panjang sekali. Dari kemah, bunga, puisi, hahaha… Lucu sekali waktu itu. Ternyata Risma tak berubah. Ia juga masih menungguku. Asyik nih. Langsung saja aku mengenalkannya dengan Romo dan Biyung di rumah. Assalamualaikum… aku membuka pintu. Waalaikum salam. Jawab Romo. Aku mempersilakkan Risma duduk, lalu aku memanggil orang tuaku. Kumulai perbincangan agak resmi ini.

" Em… Ini lo Buk, Pak, gadis yang bakal jadi calonku. "

" Sugeng enjang, Pak, Buk ? " Sapa Risma dengan ramah.

" O, ini tho. Ayu banget lho. Namanya siapa, wuk ? " Tanya Biyung pada Risma. Percakapan ini terlihat semakin akrab. Tehmanis hangat ikut berperan pada kali ini. Mungkin bulan depan aku akan mempersiapkan wedding party. Akhirnya, jodohku ketemu juga. Alhamdulillah, matur nuwun Ya Allah.

Sebulan telah berlalu. Aku belum kembali ke Jakarta. Karena lima hari lagi, aku akan menuju kepelaminan. Teman – teman dari Jakarta turut ku undang dalam pestaku ini. Rencananya memang tak terlalu mewah, hanya bertepatan di HYATT hotel. Hehehe. Detik – detik penghabisan. Setelah empat hari berlalu, tibalah saatnya yang ditunggu – tunggu. Jantungku berdetak kencang. Tidak gugup, hanya grogi.

Pakaian adat Jawa tetap menjadi andalan dalam acara ini. Macam – macam acara Jawa pun aku lakukan, bersama Risma. Acara ini meriah. Walau perasaan ku masih tak tenang untuk kedepannya. Semua tamu undangan memenuhi lapangan golf Hotel yang aku sewa. Memang sengaja kami membuah pesta Out door. Kebetulan cuaca mendukung, jadi acara ini berjalan seperti rencana. Sekitar tiga jam aku duduk dan didandani seperti orang Jawa. Eh, memang aku orang Jawa, hehehe. Lepaslah ke risauan mencari istri. Akhirnya Risma menjadi seseorang yang halal bagiku. Inilah yang aku dapat atas kesabaranku. Aku, Sae Arjuna akhirnya menjalani hidup dengan Risma, Mengontrak sebuah rumah di Jakarta. Aku senang karena telah membahagiakan orang tuaku. Dua tahun kemudian, Romoku terlihat bahagia sembari menggendong bayi kecil yang aku beri nama Risa Juniaputri. Tak salah lagi, itu anakku. Lahir tanggal 10 Juni jam tujuh malam di Jakarta. Wah, lengkap sudah kebahagiaanku dan keluargaku. Ini semua kuperoleh dari sabar dan sabar.

Tahun ini aku memutuskan untuk pindah ke Kota Yogya. Menjalani hari di kota tercinta. Bersama keluarga tercinta pula. Sampai aku merasa nyaman dan senang melihat Juni berlari ke arahku sambil berkata Papa…

KAMUS


Romo : Bapak, dalam bahasa Jawa.

Biyung : Ibu, dalambahada Jawa.

Amburadhul : Acak – acakan

Sae – sae aja : Baik – baik saja.

Trenyuh : berkaca - kaca

Le, kowe iki wis gedhe. Wis wayahe njaluk di rabikke. Lha kok malah nyante – nyante. Lik ndang, nggoleka bodjo. Rak usah ayu – ayu. Sing penting imane kuat, pinter lan seneng karo awakmu. : Nak, kamu ini sudah besar. Sudah saatnya minta di nikahkan. Kok malah santai – santai. Cepat, carilah pendamping. Tidak usah cantik – cantik. Yang penting imannya kuat, pintar, dan suka sama kamu.

Wedding party : Pesta Pernikahan.

PDKT : Pendekatan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar