Kokok ayam pertama membangunkanku dari tidur. Hawa dingin masih terasa menyelimuti subuh ini, kabut masih terlihat dari kejauhan. Dan dewi malam belum ingin beranjak pergi dari peraduannya semalam. Dari jendela, kulihat Ibu Eci sedang membuka pintu rumahnya sembari merapatkan switer abu – abu yang Ia kenakan. Dingin sekali hari ini. Sepertinya hujan akan turun siang nanti. Sang surya pun enggan pergi dari balik awan. Tak seperti biasanya.
Hari ini, Aku memasak di dapur sambil meneguk secangkir kopi panas yang manis. Andi, Beni, Tito dan Agus sedang menimba air sumur untuk mandi. Suasana haru masih terlihat diantara kami karena dua hari yang lalu, Ibu kos kami meninggal dunia. Dan mulai sekarang, akulah yang bertugas menyiapkan sarapan, dan membuat minum. Sedangkan ke empat kawanku menyiapkan air untuk mandi sekaligus membereskan rumah. Diantara kami hanya aku yang bisa memasak. Jadi terpaksa aku harus memasak sendiri. Kalau dipikir – pikir,mamang lebih praktis jika kami membeli makan di luar. Tapi ini semua kami lakukan agar irit dan inilah kebiasaan kami. Aku Oyan. Bisa masak, bisa ngelukis, tapi nggak bisa nulis sesuatu yang mbikin orang – orang jadi heboh kalo membacanya. Sebenarnya aku ingin menjadi penulis seperti Fahri Aziza, Pipiet Senja, Biru Laut atau penulis – penulis hebat lainnya. Sayangnya setiap kali aku mengirim cerpen ke majalah, masih saja tidak dimuat. Tapi walaupun begini, aku masih sering mencoba menulis sesuatu diantara waktu luangku. Aku adalah seorang mahasiswa semester dua jurusan teknik sipil di sebuah Universitas di daerah Yogya. Aku senang kuliah di sini. Soalnya banyak cewek – cewek cantik yang wira – wiri didepanku. Kebetulan Agus dan Tito sejurusan dengan ku. Jadi, selain menjadi teman kos, mereka juga menjadi teman kuliahku. Setelah semua siap, kami berlima berangkat ke kampus. Naik motor butut dari kos – kos an. Cuaca hari ini memang mendung. Burung kenaripun melantunkan nyanyian semu. Di jalan, Aku melihat Nierwana. Yang kerap dipanggil Nier, Anak Ibu Eci tetangga depan rumah sedang menunggu angkot di pinggir jalan. Padahal setahuku, anak – anak SD masuk sekolah sekitar pukul tujuh sampai setengah delapanan. Tapi kenapa Nierwana baru akan berangkat ? padahal inikan sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit. Gumamku dalam hati. Iseng saja, aku berhenti dan aku bertanya.
" Nier, kok belum berangkat sekolah ? Mas Oyan anter aja, yuk ?
" Tapi…Ya udah mas. Mas Oyan tau sekolahku kan ? " jawab Nier dengan sedikit senyum – senyum.Tak lama kemudian, sampailah kami di sekolah Nier. Tiba – tiba bel istirahat berbunyi. Nier tampak gugup. Ia berterimakasih padaku dan membuka gerbang sekolah dengan hati – hati agar tidak ketahuan satpam yang tertidur di pos. Ada apa anak ini. Dengan sengaja, aku membunyikan klakson motorku dan berharap satpam itu terbangun dari tidurnya.
' TIN … TIN…'
Nierpun berlari, namun sia – sia saja. Pak satpam terlanjur mengetahuinya. Dan Nier dibawa ke kantor Guru. Entah apa yang akan terjadi, namun aku merasa bersalah. Dan aku menyusulnya ke kantor Guru. Aku melihat Nier menangis.
" Waduh… Gawat! " bisikku.
Aku menghampirinya, dan ku dengar Ibu Guru Nier sedang menasihatinya. Dan Ia mempersilahkan aku untuk duduk disebelah Nier. Kurasa, Nierwana marah padaku.
" Maaf, Anda ini siapa ? " Tanya Guru Nier padaku.
" Saya Oyan, Bu. Tetangga Nierwana. Yang tadi mengantar Nier ke sini."
" Baiklah mas Oyan, mengapa Nier bisa terlambat akhir – akhir ini ? " Tanya Bu Guru padaku sambil membetulkan kaca matanya. Setelah panjang lebar aku menceritakan kejadian tadi pada Guru itu, Nier dan aku dipersilahkan keluar. Bocah itu langsung berlari menuju kelasnya tanpa melihatku sedikitpun. Tak hanya Nier yang telat. Terpaksa aku pun ikut telat ke kampus.
Mengakui kesalahan itu lebih sulit dari berbuat kebaikan.
Pelajaran rumit dari dosenku yang baik hati, akhirnya hanya dapat kuterima 60 % dari biasanya. Aku masih memikirkan Nier dan kejadian tadi.
" Yan, mikerke sopo tho ? kok ket mau ngelamun.. wae." Tanya Agus padaku.
" Iya, nih. Dari tadi ngelamun. Kalo punya gandengan baru, kita dikenalin dong."Sahut Tito. " Em…. Enggak kok. Aku cuma mikirin si Nier. Anak nya Bu Eci tatangga depan rumah. "
Lalu aku menceritakan semuanya pada Agus dan Tito.
" Kamu ki ngawur banget, tho. " kata Agus.
" Lha aku harus ngapain ? " jawabku.
" Yo, kamu minta maaf sama dia. " kata Agus menyarankanku.
Tiba – tiba hujan turun dengan derasnya. Di iringi suara petir yang sesekali mengagetkan. Kami bertiga berteduh di depan Lab. Kimia, dan meneruskan perbincangan tadi. Lama sudah menunggu hujan reda. Dari tadi kulihat Tito asyik memencet tombol HP nya. Nada dering SMS nya juga jarang berhenti. Tak seperti biasanya.
" To, sibuk ya ? Lagi SMS an sama sapa sih ? " Tanya ku sambil merebut HP Tito. Aku membaca SMS nya, APA?! Inbox nya berisi Vina semua. Sepertinya aku kenal nama itu. Tito merebutnya kembali. Karena nada dering SMS nya kembali berbunyi.
" sek – sek, sabar. Nanti juga kalian bakal tau, Aku SMS an sama Siapa. " Kata Tito sambil memainkan Hpnya. Agus tau apa maksudnya. Dia langsung pura – pura batuk.
Sore hari, masih tercium bau tanah yang terguyur hujan. Sudah lama aku tak mencium bau ini. Dari jendela kamarku, aku melihat Nier sedang menulis sesuatu di teras rumahnya. Aku keluar rumah, ketika Agus sedang mandi, Tito sedang makan, Andi sedang main gitar dan Beni sedang asyik nonton TV. Kuhampiri Nier, dan aku duduk di sampingnya. Nier hanya diam. Ia tak melanjutkan aktifitasnya.
" Nier, masih marah ya ? " tanyaku . Namun Ia hanya diam.
" Emang kenapa sih, kok kata Guru kamu akhir – akhir ini kamu sekolahnya telat terus ? Cerita aja sama mas Oyan. "kataku sok dekat.
" Aku nggak mau cerita sama mas Oyan ! Mas Oyan kan biang gossip. Pasti nanti Ibu jadi tau kalo aku cerita sama mas Oyan. Udah sana pulang aja. O,ya. Satu lagi! Jangan pernah nganterin sekolah aku lagi. " bentak Nier padaku. Aku tahu dia masih kecil, namun kelihatannya masalah yang sedang dihadapi bocah kelas empat SD ini lumayan berat.
" Janji deh, nggak bilang sapa – sapa. Gini aja yuk, mending kita ngobrolnya jangan di rumah. Kita pergi ke tempat yang sepi, sambil makan Es krim. Mau nggak ? " rayuku.
" Tapi janji ya.. Ya udah deh. Ke pantai aja yuk ? " Kata Nier dengan nada gembira.
Segera saja aku mengambil motor dan HP. Nier pergi dengan membawa sebuah buku tebal. Seperti Diary. Namun entah apa itu.
Petang menjelang, cakrawala mulai menebar pesona keemasannya. Di pantai, Aku dan Nier melihat keindahannya dengan nuansa jingga yang memayungi kita. Awalnya Nurul hanya takjub melihat keindahan ini.
" Andai aku seumuran dengan mas Oyan, aku tak ingin pulang malam ini." Bisik Nier. Walau sedikit tidak jelas, aku bisa melafalkannya. Sebenarnya aku masih bingung, apa yang Nier rasakan ? Kumulai saja perbincangan ini. Karena kulihat es krim Nier hampir habis.
" Eh, Nier… tau nggak ? namamu itu bagus lho. Artinya surga. Harusnya kamu berterimakasih sama orang tua mu. Udah ngasih kamu nama Nierwana. "
" Wah… yang bener mas ? Tapi, mas Oyan tau dari mana ? " Tanya Nier dengan lugu.
Setelah sedikit basa – basi, mulailah pokok permasalahannya. Namun aku lupa! Ternyata langit sudah semakin pasi. Bintang mulai datang bersama bulan. Aku langsung mengajak Nier pulang. Namun sebelum itu, Ia ingin ke kamar kecil. Nier menitipkan buku bawaannya padaku. Sengaja, aku membukanya. Ku baca tulisan terakhirnya. Tidak salah lagi ini diary. Sekilas aku membukanya, halaman demi halaman aku selalu menemukan kata Oyan yang ditulisnya dengan bolpoint berwarna pink. ' Diary, hari ini aku seneng, tapi juga sedih. Tau nggak sih… Tadi aku berangkat sekolah diantar sama mas Oyan. Keren kan ? Tapi aku juga sedih. Soalnya mas Oyan nakal. Gara – gara dia, aku dimarahin sama bu Indri yang galak. Huuh… Tapi, walaupun begitu, mas Oyan tetep aku tulis pake tinta pink. Soalnya, kamu tau kan , Diary ku sayang…. Eh,,, mas Oyan datang tuh.. mau apa ya ??? Kebetulan, Ibu dan ayah sedang pergi. Tapi, memang mereka selalu pergi meninggalkan aku.'
Apa maksudnya ? Aku segera menutup buku itu karena kudengar suara pintu terbuka. Segera saja aku dan Nier pulang karena langit sudah semakin pasi. Di rumah, aku melihat Agus dan Tito sedang bertengkar. Kelihatannya masalah mereka cukup rumit. Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun aku berharap besok pagi mereka sudah kembali seperti biasa.
Matahari pagi telah bersinar. Hari ini aku agak telat bangun. Mungkin masih capek karena semalam aku merenungkan isi buku Nier. Apakah firus merah jambu itu benar – benar terjadi pada Nier ? Batinku. Aku keluar kamar dan menuju ke dapur untuk memasak seperti biasa. Tak sengaja aku melihat Agus dan Tito sedang merebutkan kamar mandi. Ternyata, mareka masih musuhan.
“ Heh, mbok jangan kayak anak kecil gitu lho. Mau mandi aja pakek rebutan kamar mandi!” Bentakku pada mereka.
“ Sing waras ngalah! “ sahut Agus sambil meninggalkan Tito dan menghampiri ku. Agus kesal. Ia menceritakan masalahnya padaku.
“ Si Tito kuwi lho. Jengkel aku! Lha wong yang kenal sama Vina aja aku duluan, kok teko – teko dia udah SMS an sama Vina. Maggilnya Yang lagi. Emange opo ? Yang yang palalu peyang ?”
“ Yo sabar wae tho Gus. Kan kamu juga udah tahu sendiri kalo Tito itu orangnya egois. Pengen menang sendiri. “ Kata ku sambil membalik telur ceplok yang hampir matang. Perang mulut itu kembali terjadi saat anak – anak kos yang lain sedang sarapan. Mereka tidak pernah akur setelah kejadian semalam. Suasana jadi tidak ramai. Padahal, yang selalu membuat humor – humor waktu anak – anak kos di Bantul ini pada kumpul, hanya Agus dan Tito. Sepi. Hampa.Rasanya hidup ini nggak komplit setelah aku kehilangan Bu Welas, pemilik kos ini.
Terpaksa aku berangkat ke kampus paling akhir. Karena aku harus membereskan ruang tengah yang berantakan, ulah Andi dan Beni yang semalam tak membuang kulit kacang setelah menonton bola. Lagi – lagi aku bertemu dengan Nier di pinggir jalan. Kali ini dia menangis. Tak mengenakan seragam sekolah dan Nier juga tak mengenakan sepatu . Hanya membawa tas yang lumayan besar. Karena penasaran, aku berhenti mendekatinya.
“ Nier, mau kemana ? Kok nggak sekolah ? libur, apa… “ belum selesai aku bertanya pada Nier, namun Ia memotong pembicaraan dan tangisannya semakin pelan.
“Aku sekolah mas, tapi bajuku belum disertika Ibu, semalam Ibu dan ayah nggak pulang ke rumah.” Katanya sambil menghapus air mata. Kasihan sekali anak ini.
“ Kenapa kamu nggak nyerika baju sendiri ? “
“ Aku nggak bias ngambil setrikaannya, mas. Soalnya Ibu naruhnya di atas lemari. Aku udah nyoba ngambil, tapi nggak sampai. “
“ Mbok ya bilang sama mas Oyan, ntar kan bisa tak serikain. “ ucapku sambil melihat Nier yang lugu dan imut – imut itu. Dari matanya, tersirat cahaya penyejuk nurani. Anak ini mempunyai mata yang indah. Seindah namanya, yang berarti surga. Aku memutuskan untuk mengajaknya berbicara. Mungkin, aku bisa membantu Nier keluar dari masalah yang seharusnya belum pantas Ia terima. Nier ku ajak ke pantai Parangtritis seperti kemarin malam. Tangannya dingin ketika ku pegang. Mungkin Nier sakit.
" Nier, kok kamu dingin sih ?" tanyaku pada bocah itu.
" Nggak papa kok mas,emangnya aku dingin ya ? " jawabnya pelan.
Kumulai bertanya, apa yang terjadi.Setelah satu jam berlalu, kuputuskan untuk mengajaknya ke kampus. Walaupun ini sangat berat, aku akan mencoba menemani Nier yang saat ini sedang kesepian. Sesampainya di kampus, Agus datang menghampiriku.
" Yan, mulai hari ini aku nggak bakal tidur di kos – kosan lagi. Aku mau pindah. Jengkel aku sama si Tito monyong itu ! " Kata Agus sedikit marah.
" Apa nggak dipikir lagi tho Gus ? Kamu tuh kalo mau pindah, pamitan dulu sama Beni, Andi terus ke Makamnya Bu Welas dulu. Lagian kamu tuh, kayak anak kecil. Cuma gara – gara cewek aja, bubaran sama sahabatnya sendiri. " kataku sembari melepas jaket.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok dan yang akan datang.
Nier kusuruh menunggu sampai kelasku selesai. Ia sedang asyik bermain game di warnet kampusku. Beberapa jam kemudian, aku selasai kuliah hari ini. Nier kembali kutemani. Walau aku dan dia berbeda umur, namun kami berdua tetap enjoy. Nier mencoba menelfon Ibu Eci, namun tidak pernah diangkat.Dan akhirnya Ia menelfon Pak Hamzah, ternyata Pak Hamzah sedang berada di kantornya.
" Mas, papa ada di kantor. Mas Oyan mau nganterin aku ke kantornya Papa nggak ? " Ucap Nier dengan riang.
" Oke,deh… Berangkat yuk …" kata ku penuh semangat, melihat Nier tersenyum lagi.
Di kantor Pak Hamzah, kami malah dimarahi,
" Papa, Nier kangen. Kok udah satu bulan ini, papa nggak pulang ke rumah ? " Tanya Nier dengan lugu.
" Kamu nanti juga tau sendiri. Udah sana pulang. Masih kecil saja kerjanya main dengan anak kos yang nggak jelas ini. !" Bentak pak Hamzah pada kami.
" Nier, jangan pernah menyusul papa ke kantor lagi ! Pergi sana bersama Ibumu. Saya dan Eci akan segera bercerai. " Lanjut Pak Hamzah.
" Cerai ? " Kata Nier dengan spontan. Ia terkejut. Setan apa yang telah merasuki pikiran Bapaknya sehingga, Orang tua Nier berniat untuk bercerai. Dengan menahan air matanya, Nier pergi meninggalkan Pak Hamzah sambil menarik lengan bajuku. Ia tak pamit, dan aku mulai mendengar isaknya. Sekitar lima belas menit kami tak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya,
" Mas, aku nggak mau jadi anak broken home." Katanya melas. Hatiku miris mendengar kata – katanya. Nier memang belum terlalu mengerti apa itu broken home, tapi sorot matanya meyakinkan aku bahwa Nier butuh seseorang.
" Sabar aja ya, Nier. Kan disini masih ada mas Oyan. Gini aja deh, gimana kalo mulai besok, kamu aku antar sekolah, aku buatin makanan, aku temenin belajar, pokoknya kemana – mana ntar mas Oyan temenin deh. Mau nggak ? " kataku. Sebenarnya, aku tak sanggup melakukan semua ini. Namun Nier sudah tak punya siapa – siapa lagi. Ibunya pergi entah kemana, Bapaknya sibuk dan egois, saudara – saudaranya, aku tak tahu dimana.
" Tapi, aku nggak mau ngerepotin mas Oyan. Kan mas Oyan kuliah juga. " jawabnya sedih.
" Tenang aja, ntar aku atur. Lagian juga kalo sore, aku nggak ada kegiatan. Walaupun ada sedikit. He – he."
" Tapi bener nih, aku nggak ngerepotin mas Oyan ? "
" Iya. Nggak papa kok. "
Setelah sebulan berlalu, Ia ditinggal kedua orang tuanya, kulihat Nier senang bersama ku. Kami pun menjalani hari – hari bersama. Di penuhi warna. Kami tertawa dan bersedih bersama. Aku mulai menganggap Nierwana sebagai adikku. Entah sampai kapan ini akan berlangsung.
Salatiga, Mei 2008
Jumat, 23 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar