Jumat, 23 Oktober 2009
NIER
Hari ini, Aku memasak di dapur sambil meneguk secangkir kopi panas yang manis. Andi, Beni, Tito dan Agus sedang menimba air sumur untuk mandi. Suasana haru masih terlihat diantara kami karena dua hari yang lalu, Ibu kos kami meninggal dunia. Dan mulai sekarang, akulah yang bertugas menyiapkan sarapan, dan membuat minum. Sedangkan ke empat kawanku menyiapkan air untuk mandi sekaligus membereskan rumah. Diantara kami hanya aku yang bisa memasak. Jadi terpaksa aku harus memasak sendiri. Kalau dipikir – pikir,mamang lebih praktis jika kami membeli makan di luar. Tapi ini semua kami lakukan agar irit dan inilah kebiasaan kami. Aku Oyan. Bisa masak, bisa ngelukis, tapi nggak bisa nulis sesuatu yang mbikin orang – orang jadi heboh kalo membacanya. Sebenarnya aku ingin menjadi penulis seperti Fahri Aziza, Pipiet Senja, Biru Laut atau penulis – penulis hebat lainnya. Sayangnya setiap kali aku mengirim cerpen ke majalah, masih saja tidak dimuat. Tapi walaupun begini, aku masih sering mencoba menulis sesuatu diantara waktu luangku. Aku adalah seorang mahasiswa semester dua jurusan teknik sipil di sebuah Universitas di daerah Yogya. Aku senang kuliah di sini. Soalnya banyak cewek – cewek cantik yang wira – wiri didepanku. Kebetulan Agus dan Tito sejurusan dengan ku. Jadi, selain menjadi teman kos, mereka juga menjadi teman kuliahku. Setelah semua siap, kami berlima berangkat ke kampus. Naik motor butut dari kos – kos an. Cuaca hari ini memang mendung. Burung kenaripun melantunkan nyanyian semu. Di jalan, Aku melihat Nierwana. Yang kerap dipanggil Nier, Anak Ibu Eci tetangga depan rumah sedang menunggu angkot di pinggir jalan. Padahal setahuku, anak – anak SD masuk sekolah sekitar pukul tujuh sampai setengah delapanan. Tapi kenapa Nierwana baru akan berangkat ? padahal inikan sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit. Gumamku dalam hati. Iseng saja, aku berhenti dan aku bertanya.
" Nier, kok belum berangkat sekolah ? Mas Oyan anter aja, yuk ?
" Tapi…Ya udah mas. Mas Oyan tau sekolahku kan ? " jawab Nier dengan sedikit senyum – senyum.Tak lama kemudian, sampailah kami di sekolah Nier. Tiba – tiba bel istirahat berbunyi. Nier tampak gugup. Ia berterimakasih padaku dan membuka gerbang sekolah dengan hati – hati agar tidak ketahuan satpam yang tertidur di pos. Ada apa anak ini. Dengan sengaja, aku membunyikan klakson motorku dan berharap satpam itu terbangun dari tidurnya.
' TIN … TIN…'
Nierpun berlari, namun sia – sia saja. Pak satpam terlanjur mengetahuinya. Dan Nier dibawa ke kantor Guru. Entah apa yang akan terjadi, namun aku merasa bersalah. Dan aku menyusulnya ke kantor Guru. Aku melihat Nier menangis.
" Waduh… Gawat! " bisikku.
Aku menghampirinya, dan ku dengar Ibu Guru Nier sedang menasihatinya. Dan Ia mempersilahkan aku untuk duduk disebelah Nier. Kurasa, Nierwana marah padaku.
" Maaf, Anda ini siapa ? " Tanya Guru Nier padaku.
" Saya Oyan, Bu. Tetangga Nierwana. Yang tadi mengantar Nier ke sini."
" Baiklah mas Oyan, mengapa Nier bisa terlambat akhir – akhir ini ? " Tanya Bu Guru padaku sambil membetulkan kaca matanya. Setelah panjang lebar aku menceritakan kejadian tadi pada Guru itu, Nier dan aku dipersilahkan keluar. Bocah itu langsung berlari menuju kelasnya tanpa melihatku sedikitpun. Tak hanya Nier yang telat. Terpaksa aku pun ikut telat ke kampus.
Mengakui kesalahan itu lebih sulit dari berbuat kebaikan.
Pelajaran rumit dari dosenku yang baik hati, akhirnya hanya dapat kuterima 60 % dari biasanya. Aku masih memikirkan Nier dan kejadian tadi.
" Yan, mikerke sopo tho ? kok ket mau ngelamun.. wae." Tanya Agus padaku.
" Iya, nih. Dari tadi ngelamun. Kalo punya gandengan baru, kita dikenalin dong."Sahut Tito. " Em…. Enggak kok. Aku cuma mikirin si Nier. Anak nya Bu Eci tatangga depan rumah. "
Lalu aku menceritakan semuanya pada Agus dan Tito.
" Kamu ki ngawur banget, tho. " kata Agus.
" Lha aku harus ngapain ? " jawabku.
" Yo, kamu minta maaf sama dia. " kata Agus menyarankanku.
Tiba – tiba hujan turun dengan derasnya. Di iringi suara petir yang sesekali mengagetkan. Kami bertiga berteduh di depan Lab. Kimia, dan meneruskan perbincangan tadi. Lama sudah menunggu hujan reda. Dari tadi kulihat Tito asyik memencet tombol HP nya. Nada dering SMS nya juga jarang berhenti. Tak seperti biasanya.
" To, sibuk ya ? Lagi SMS an sama sapa sih ? " Tanya ku sambil merebut HP Tito. Aku membaca SMS nya, APA?! Inbox nya berisi Vina semua. Sepertinya aku kenal nama itu. Tito merebutnya kembali. Karena nada dering SMS nya kembali berbunyi.
" sek – sek, sabar. Nanti juga kalian bakal tau, Aku SMS an sama Siapa. " Kata Tito sambil memainkan Hpnya. Agus tau apa maksudnya. Dia langsung pura – pura batuk.
Sore hari, masih tercium bau tanah yang terguyur hujan. Sudah lama aku tak mencium bau ini. Dari jendela kamarku, aku melihat Nier sedang menulis sesuatu di teras rumahnya. Aku keluar rumah, ketika Agus sedang mandi, Tito sedang makan, Andi sedang main gitar dan Beni sedang asyik nonton TV. Kuhampiri Nier, dan aku duduk di sampingnya. Nier hanya diam. Ia tak melanjutkan aktifitasnya.
" Nier, masih marah ya ? " tanyaku . Namun Ia hanya diam.
" Emang kenapa sih, kok kata Guru kamu akhir – akhir ini kamu sekolahnya telat terus ? Cerita aja sama mas Oyan. "kataku sok dekat.
" Aku nggak mau cerita sama mas Oyan ! Mas Oyan kan biang gossip. Pasti nanti Ibu jadi tau kalo aku cerita sama mas Oyan. Udah sana pulang aja. O,ya. Satu lagi! Jangan pernah nganterin sekolah aku lagi. " bentak Nier padaku. Aku tahu dia masih kecil, namun kelihatannya masalah yang sedang dihadapi bocah kelas empat SD ini lumayan berat.
" Janji deh, nggak bilang sapa – sapa. Gini aja yuk, mending kita ngobrolnya jangan di rumah. Kita pergi ke tempat yang sepi, sambil makan Es krim. Mau nggak ? " rayuku.
" Tapi janji ya.. Ya udah deh. Ke pantai aja yuk ? " Kata Nier dengan nada gembira.
Segera saja aku mengambil motor dan HP. Nier pergi dengan membawa sebuah buku tebal. Seperti Diary. Namun entah apa itu.
Petang menjelang, cakrawala mulai menebar pesona keemasannya. Di pantai, Aku dan Nier melihat keindahannya dengan nuansa jingga yang memayungi kita. Awalnya Nurul hanya takjub melihat keindahan ini.
" Andai aku seumuran dengan mas Oyan, aku tak ingin pulang malam ini." Bisik Nier. Walau sedikit tidak jelas, aku bisa melafalkannya. Sebenarnya aku masih bingung, apa yang Nier rasakan ? Kumulai saja perbincangan ini. Karena kulihat es krim Nier hampir habis.
" Eh, Nier… tau nggak ? namamu itu bagus lho. Artinya surga. Harusnya kamu berterimakasih sama orang tua mu. Udah ngasih kamu nama Nierwana. "
" Wah… yang bener mas ? Tapi, mas Oyan tau dari mana ? " Tanya Nier dengan lugu.
Setelah sedikit basa – basi, mulailah pokok permasalahannya. Namun aku lupa! Ternyata langit sudah semakin pasi. Bintang mulai datang bersama bulan. Aku langsung mengajak Nier pulang. Namun sebelum itu, Ia ingin ke kamar kecil. Nier menitipkan buku bawaannya padaku. Sengaja, aku membukanya. Ku baca tulisan terakhirnya. Tidak salah lagi ini diary. Sekilas aku membukanya, halaman demi halaman aku selalu menemukan kata Oyan yang ditulisnya dengan bolpoint berwarna pink. ' Diary, hari ini aku seneng, tapi juga sedih. Tau nggak sih… Tadi aku berangkat sekolah diantar sama mas Oyan. Keren kan ? Tapi aku juga sedih. Soalnya mas Oyan nakal. Gara – gara dia, aku dimarahin sama bu Indri yang galak. Huuh… Tapi, walaupun begitu, mas Oyan tetep aku tulis pake tinta pink. Soalnya, kamu tau kan , Diary ku sayang…. Eh,,, mas Oyan datang tuh.. mau apa ya ??? Kebetulan, Ibu dan ayah sedang pergi. Tapi, memang mereka selalu pergi meninggalkan aku.'
Apa maksudnya ? Aku segera menutup buku itu karena kudengar suara pintu terbuka. Segera saja aku dan Nier pulang karena langit sudah semakin pasi. Di rumah, aku melihat Agus dan Tito sedang bertengkar. Kelihatannya masalah mereka cukup rumit. Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun aku berharap besok pagi mereka sudah kembali seperti biasa.
Matahari pagi telah bersinar. Hari ini aku agak telat bangun. Mungkin masih capek karena semalam aku merenungkan isi buku Nier. Apakah firus merah jambu itu benar – benar terjadi pada Nier ? Batinku. Aku keluar kamar dan menuju ke dapur untuk memasak seperti biasa. Tak sengaja aku melihat Agus dan Tito sedang merebutkan kamar mandi. Ternyata, mareka masih musuhan.
“ Heh, mbok jangan kayak anak kecil gitu lho. Mau mandi aja pakek rebutan kamar mandi!” Bentakku pada mereka.
“ Sing waras ngalah! “ sahut Agus sambil meninggalkan Tito dan menghampiri ku. Agus kesal. Ia menceritakan masalahnya padaku.
“ Si Tito kuwi lho. Jengkel aku! Lha wong yang kenal sama Vina aja aku duluan, kok teko – teko dia udah SMS an sama Vina. Maggilnya Yang lagi. Emange opo ? Yang yang palalu peyang ?”
“ Yo sabar wae tho Gus. Kan kamu juga udah tahu sendiri kalo Tito itu orangnya egois. Pengen menang sendiri. “ Kata ku sambil membalik telur ceplok yang hampir matang. Perang mulut itu kembali terjadi saat anak – anak kos yang lain sedang sarapan. Mereka tidak pernah akur setelah kejadian semalam. Suasana jadi tidak ramai. Padahal, yang selalu membuat humor – humor waktu anak – anak kos di Bantul ini pada kumpul, hanya Agus dan Tito. Sepi. Hampa.Rasanya hidup ini nggak komplit setelah aku kehilangan Bu Welas, pemilik kos ini.
Terpaksa aku berangkat ke kampus paling akhir. Karena aku harus membereskan ruang tengah yang berantakan, ulah Andi dan Beni yang semalam tak membuang kulit kacang setelah menonton bola. Lagi – lagi aku bertemu dengan Nier di pinggir jalan. Kali ini dia menangis. Tak mengenakan seragam sekolah dan Nier juga tak mengenakan sepatu . Hanya membawa tas yang lumayan besar. Karena penasaran, aku berhenti mendekatinya.
“ Nier, mau kemana ? Kok nggak sekolah ? libur, apa… “ belum selesai aku bertanya pada Nier, namun Ia memotong pembicaraan dan tangisannya semakin pelan.
“Aku sekolah mas, tapi bajuku belum disertika Ibu, semalam Ibu dan ayah nggak pulang ke rumah.” Katanya sambil menghapus air mata. Kasihan sekali anak ini.
“ Kenapa kamu nggak nyerika baju sendiri ? “
“ Aku nggak bias ngambil setrikaannya, mas. Soalnya Ibu naruhnya di atas lemari. Aku udah nyoba ngambil, tapi nggak sampai. “
“ Mbok ya bilang sama mas Oyan, ntar kan bisa tak serikain. “ ucapku sambil melihat Nier yang lugu dan imut – imut itu. Dari matanya, tersirat cahaya penyejuk nurani. Anak ini mempunyai mata yang indah. Seindah namanya, yang berarti surga. Aku memutuskan untuk mengajaknya berbicara. Mungkin, aku bisa membantu Nier keluar dari masalah yang seharusnya belum pantas Ia terima. Nier ku ajak ke pantai Parangtritis seperti kemarin malam. Tangannya dingin ketika ku pegang. Mungkin Nier sakit.
" Nier, kok kamu dingin sih ?" tanyaku pada bocah itu.
" Nggak papa kok mas,emangnya aku dingin ya ? " jawabnya pelan.
Kumulai bertanya, apa yang terjadi.Setelah satu jam berlalu, kuputuskan untuk mengajaknya ke kampus. Walaupun ini sangat berat, aku akan mencoba menemani Nier yang saat ini sedang kesepian. Sesampainya di kampus, Agus datang menghampiriku.
" Yan, mulai hari ini aku nggak bakal tidur di kos – kosan lagi. Aku mau pindah. Jengkel aku sama si Tito monyong itu ! " Kata Agus sedikit marah.
" Apa nggak dipikir lagi tho Gus ? Kamu tuh kalo mau pindah, pamitan dulu sama Beni, Andi terus ke Makamnya Bu Welas dulu. Lagian kamu tuh, kayak anak kecil. Cuma gara – gara cewek aja, bubaran sama sahabatnya sendiri. " kataku sembari melepas jaket.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok dan yang akan datang.
Nier kusuruh menunggu sampai kelasku selesai. Ia sedang asyik bermain game di warnet kampusku. Beberapa jam kemudian, aku selasai kuliah hari ini. Nier kembali kutemani. Walau aku dan dia berbeda umur, namun kami berdua tetap enjoy. Nier mencoba menelfon Ibu Eci, namun tidak pernah diangkat.Dan akhirnya Ia menelfon Pak Hamzah, ternyata Pak Hamzah sedang berada di kantornya.
" Mas, papa ada di kantor. Mas Oyan mau nganterin aku ke kantornya Papa nggak ? " Ucap Nier dengan riang.
" Oke,deh… Berangkat yuk …" kata ku penuh semangat, melihat Nier tersenyum lagi.
Di kantor Pak Hamzah, kami malah dimarahi,
" Papa, Nier kangen. Kok udah satu bulan ini, papa nggak pulang ke rumah ? " Tanya Nier dengan lugu.
" Kamu nanti juga tau sendiri. Udah sana pulang. Masih kecil saja kerjanya main dengan anak kos yang nggak jelas ini. !" Bentak pak Hamzah pada kami.
" Nier, jangan pernah menyusul papa ke kantor lagi ! Pergi sana bersama Ibumu. Saya dan Eci akan segera bercerai. " Lanjut Pak Hamzah.
" Cerai ? " Kata Nier dengan spontan. Ia terkejut. Setan apa yang telah merasuki pikiran Bapaknya sehingga, Orang tua Nier berniat untuk bercerai. Dengan menahan air matanya, Nier pergi meninggalkan Pak Hamzah sambil menarik lengan bajuku. Ia tak pamit, dan aku mulai mendengar isaknya. Sekitar lima belas menit kami tak berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya,
" Mas, aku nggak mau jadi anak broken home." Katanya melas. Hatiku miris mendengar kata – katanya. Nier memang belum terlalu mengerti apa itu broken home, tapi sorot matanya meyakinkan aku bahwa Nier butuh seseorang.
" Sabar aja ya, Nier. Kan disini masih ada mas Oyan. Gini aja deh, gimana kalo mulai besok, kamu aku antar sekolah, aku buatin makanan, aku temenin belajar, pokoknya kemana – mana ntar mas Oyan temenin deh. Mau nggak ? " kataku. Sebenarnya, aku tak sanggup melakukan semua ini. Namun Nier sudah tak punya siapa – siapa lagi. Ibunya pergi entah kemana, Bapaknya sibuk dan egois, saudara – saudaranya, aku tak tahu dimana.
" Tapi, aku nggak mau ngerepotin mas Oyan. Kan mas Oyan kuliah juga. " jawabnya sedih.
" Tenang aja, ntar aku atur. Lagian juga kalo sore, aku nggak ada kegiatan. Walaupun ada sedikit. He – he."
" Tapi bener nih, aku nggak ngerepotin mas Oyan ? "
" Iya. Nggak papa kok. "
Setelah sebulan berlalu, Ia ditinggal kedua orang tuanya, kulihat Nier senang bersama ku. Kami pun menjalani hari – hari bersama. Di penuhi warna. Kami tertawa dan bersedih bersama. Aku mulai menganggap Nierwana sebagai adikku. Entah sampai kapan ini akan berlangsung.
Salatiga, Mei 2008
jangan pergi
Hampir setiap malam dirumahku hanya ada gertakan, keributan dan suara tangis adik – adikku yang sangat kencang. Dan itu membuat aku telah terbiasa berada diantara kerumunan itu. Saat semua mulai meredup, aku terdiam dikamar, mencoba memahami apa yang terjadi dengan keluargaku ini. Sudah sepantasnya untuk aku mengetahui masalah – masalah yang sedang bernaung di hati orangtuaku itu. Mungkin saja aku bisa meringankan sedikit beban yang juga berimbas padaku. Tapi apa yang mereka lakukan setiap aku berusaha mencari alasan itu? Diam. Dan sama sekali tak memperdulikanku. Sampai suatu saat aku benar – benar ingin mati dibuatnya. Aku ingin menjadi hantu saja. Percuma aku menjadi bagian dari keluarga itu, karena setiap saat, mama dan papa seolah tak melihatku ada disana bersama mereka. Seolah – olah yakin bahwa aku tak ada disana bersama mereka.
Aku bosan seperti ini. Aku lelah berada disini. Aku ingin seperti anak – anak lain, yang masih bisa menikmati indahnya dunia. Aku ingin sekali diperhatikan oleh orangtuaku. Namun aku mungkin telah kehabisan cara untuk mencoba mendapatkan seditik respon dari mereka. Atau mungkin mereka yang terlalu sibuk dengan urusan orang dewasa dan urusan keuangan rumah tangga, sehingga tak ada waktu lagi untuk sekedar makan malam bersama. Apa ini masih layak disebut keluarga? Aku selalu bertanya pada hati kecilku. Apa yang harus aku perbuat? Aku bingung, aku takut dan aku gelisah. Aku seperti hilang dari jalan hidup orangtuaku. Aku seperti hidup tanpa mereka. Aku sendiri, seperti tak memiliki keluarga. Tak memiliki dukungan dari orang yang seharusnya manjadikan aku nomer satu di hidupnya. Aku selalu ingin menangis. Sampai suatu hari, dimana semua amarah dan kebencian bersatu, dimana semua keinginan untuk meledak – ledak berkumpul di dalam hati. Dendam, murka, kacau.
"Kamu itu sudah berkeluarga! Seharusnya bisa menjaga hati suamimu ini! Bukan malah berduaan di kantor dengan lelaki yang bukan muhrim itu! Kurang apa aku ini? Kurang apa? Setiap kamu minta uang untuk foya – foya, apa pernah aku menolak untuk memberimu uang? Setiap kamu nggak mau ngelayani aku, apa pernah aku maksa – maksa kamu untuk itu?" bentak papa yang barusan mendengar kabar kalau mama berduaan dengan seorang lelaki di kantornya. "Dengerin aku dulu mas. Dia itu cuma rekan kerja, sebatas itu aja. Kenapa sih, Mas selalu nyalahin aku kalau urusan seperti ini? Kenapa selalu percaya sama omongan orang lain?" Mama mencoba membela dirinya.
"Jelas aku lebih percaya orang lain dari pada kamu! Coba kamu hitung sendiri, sudah berapa kali aku negur kamu gara – gara urusan macam ini?"
"Seharusnya, Mas ngaca dong! Berapa kali, Mas jalan dengan perempuan – perempuan cafĂ© itu? Dan.."
"PLAK..!!" belum selesai Mama dengan kalimat – kalimatnya, sebuah tamparan mendarat di pipi mama yang selalui dihias dengan make up.
"Kamu? Dasar istri kurang ajar! Nggak tahu malu ya kamu!" lagi – lagi papaku meledak – ledak. Kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Dan aku sudah benar – benar ingin berteriak, menangis, dan menyadarkan mereka atas perbuatan mereka yang tak pantas menjadi tontonan kedua adik – adikku. Aku menyesal telah menjadi bagian dari keluarga ini. Sambil menangis, Mamaku mencoba mengungkapkan semuanya.
"Ceraikan aku, Mas. Aku sudah nggak kuat hidup dengan kamu."
"Wanita murahan! Berani sekali kamu…"
"Diam!! Aku benci kalian! Kalian bukan orang baik! Kalian jahat!" Akhirnya aku berhasil membuat hati mereka tergerak. Aku hanya takut sesuatu yang fatal terjadi. Aku takut adik – adikku menjadi depresi dan rendah diri karena peristiwa yang barusaja mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri.
Mamaku berlalu ke kamar. Aku hanya terdiam di tempatku berdiri. Aku mencoba mengatur emosiku, tapi aku benar – benar tak kuasa. Kuputuskan untuk mencari udara di sekitar rumah. Mungkin dengan berkeliling kompleks, jiwaku bisa sedikit tenang. Aku berharap, menemukan teman yang bisa menghapus keluh kesahku. Dan ternyata, doaku terkabul. Aku melihat seorang perempuan seusiaku di ayunan taman. Baru sekali ini aku melihatnya ada di kompleks rumahku. Aku berpikir, mungkin ini teman yang dikirimkan malaikat Tuhan untuk menemani langkahku yang mulai merapuh.
"Hai..?" sapaku.
"Hai juga. Kenalin, aku Bella."
"Aku Ira,Nabira..Senang bisa kenal kamu."
"Aku juga."
" Sekarang kita teman kan?" "Iya, pasti." Bella tersenyum. Aku beruntung bisa bertemu dengan Bella sore ini. Aku sekarang punya teman. Yang mungkin bisa menjadi tempat untuk berbagi. "Rumahmu nomer berapa? Aku baru dua hari tinggal disini." Kata Bella.
"Oh, nomer 4. Yuk, kapan – kapan main kerumah." Ajakku.
"Oke, sip. Nggak terlalu jauh dari rumahku ya? Aku nomer 10." Tak lama setelah itu, aku dan Bella sudah sangat akrab. Apalagi setelah tahu bahwa Bella bersekolah di sekolah yang sama dengan aku. Aku seperti dihidupkan kembali olehnya. Dari sinilah semua keterpurukanku mulai membaik. Aku senang bisa mengenal dia. Dan aku akan menyayanginya. Bella dapat mengerti diriku. Dia sangat baik, walaupun terkadang dia selalu menyuruh ku untuk ini dan itu. Namun semua itu aku lakukan, aku lakukan dengan semaksimal mungkin karena aku sayang Bella. Setiap hari, aku selalu pergi bersama Bella. Aku selalu tersenyum dan bercanda dengannya. Tak ada kesedihan dan kesepian kala itu. Semuanya indah dimataku. Dan aku mulai acuh dengan keluargaku, yang semakin hari semakin parah. Sahabat adalah orang nomer satu. Sahabat adalah cinta yang besar. Sahabat adalah segalanya. Sahabat adalah udara untuk hidup, menghidupkan hidup agar lebih hidup, mewarnai kehidupan, dan hidup yang menyenangkan. Sahabat adalah cahaya dikala gelap, obat dikala sakit, senyum dikala sedih, tali saat mulai terurai, harapan dikala goyah, menghangatkan dikala dingin, menyejukkan dikala terik, ketulusan, kejujuran, anugrah dan sangat berharga. Aku sayang kamu, Bella.
"Ra, kita ke mall yuk. Sapa tahu ada barang bagus." Kata Bella siang itu.
"Oke. Emang mau cari apa sih, Bel?" jawabku sambil menyiapkan semuanya.
"Apa aja deh, tapi yang gratis ya?"
"Hehhehhe,"aku tertawa kecil. "Jadi aku yang bayar nih?" tanyaku.
"Seperti biasa, Sayang. Oke ?"
"Iya deh, apa sih yang ngga buat orang yang paling berarti di hidupku?" kataku sok puitis. Dan kamipun pergi.
Sudah hampir satu tahun aku selalu bersama Bella. Bahkan kami layak disebut sebagai buah pinang yang dibelah dua. Kami sangat mirip, mulai dari gaya rambut, gaya bicara, cara berpakaian dan barang – barang yang sama. Dan aku masih sangat bangga dengan dia, sampai pada suatu hari, temanku, Putri menceritakan rahasia dibalik semua ini. "Ra, kamu cuma dimanfaatin sama Bella. Maaf baru bisa bilang ke kamu sekarang. Aku takut, Ra. Tapi lama – lama aku juga nggak bisa ngeliat kamu gini terus." "Maksudnya apa Put? Manfaatin gimana sih?" tanyaku heran.
"Selama ini, kamu kan yang ngebiayain kebutuhannya Bella? Misalnya kayak ngebayarin Bella nonton, mbeliin Bella baju, pergi sama Bella dan selalu kamu yang ngeluarin uang. Sadar nggak?" celoteh Putri.
"Aku nggak tahu, Put. Wajar aja kali, kan Bella sahabatku."
"Tapi apa kamu tahu, Bella itu sering banget ngomongin keburukanmu sama teman lain. Dia juga pernah bilang ke aku, kalo sebenernya kamu itu anak hasil dari main serongnya mama kamu." Aku nggak percaya. Benar – benar tak bisa berbuat apa – apa lagi. Aku merasa sangat ingin marah, tapi pada siapa seharusnya aku marah? Pada diriku sendiri karena aku bimbang? Pada Putri karena dia mencoba membuatku ingin menangis? Pada Bella yang masih menjadi orang terpenting di hidupku? Atau pada mamaku yang masih setia pada papa? Batin ini terguncang lagi. Jiwaku bergumuruh, semuanya berubah menjadi kacau.
Kristal bening itu jatuh, membasahi hati yang sudah lama kering. Aku benar – benar sulit untuk menilai mana yang benar adanya. Dan aku benar – benar ingat dengan peristiwa malam itu, saat Putri mencoba membuktikan semua yang pernah dia ucapkan padaku. Putri mengajakku kerumahnya. Dirumahnya, ada sebuah telefon parallel yang masih berfungsi. Dan ketika salah satu telfon itu digunakan, maka telfon yang tidak bekerja dapat mendengar isi percakapan dari orang yang sedang kita hubungi. Dengan cara itu, Putri membuktikan semuanya. Ketika Putri menelfon Bella, aku sangat berhati – hati mendengarkan mereka.
"Halo, Bella?" Putri mengawalinya.
"Iya, kenapa, Put? Tumben banget nih." Jawab Bella dengan nada yang datar.
"Aku cuma mau tanya aja. Ngeganggu nggak nih?" "Santai aja. Apaan?"
"Tentang Nabira." "Kenapa, Put?"
" Sebenernya, kamu sama dia tuh udah berapa lama sahabatan? Trus, enak nggak sih punya sahabat kayak dia?"
"Hampir setahun kali ya? Bodo amat ngga aku hitung. Ya… gimana lagi? Aku ya happy – happy aja gitu. Dia kan hartaku." Kata Bella dengan santai. Dan kata – katanya itu, sudah mulai melukaiku. "Oh, gitu ya?" kata Putri.
"Kalo bukan karena uangnya, ngapain sih aku mau nemenin dia kemana – mana? Anak broken home gitu nyusahin banget." Nadanya meremehkan.
"Wah, berarti selama ini istilahnya kamu cuma manfaatin dia gitu?"
"Ya jelas. Hahhahha" jawabnya santai.
"Owh..hmm..kalau kamu mau tau, Bel. Sekarang Nabira denger apa yang barusan kita omongin. Kamu binatang ya! Nggak bisa mikir ? Nggak bisa ngerasain? Dia itu sayang sama kamu. Hebat ya bisa acting sampai kayak gini. Wuih! Kelihatan real banget ya kamu. Jago ya. Belajar dimana? Dasar!" kata Putri masih dengan nada santai.
"Heh! Maksudnya apa sih?" Bella mulai marah. Dan aku yang terisak, mencoba berbicara dengannya. "Makasih buat semuanya, ya Bell. Susah banget ya cari seseorang yang bisa bener – bener sayang sama aku? Bukan karena semua yang aku miliki sekarang, bukan karena terpaksa, tapi karena dia benar – benar ingin untuk mengerti aku. Makasih selama ini udah nemenin aku. Trus, spesial makasih buat Bella! Yang udah berhasil mbuat aku down, gak berguna, en pengen banget sama yang namanya ngebunuh kamu! Puas sekarang? Ato masih ada perlu lagi sama uangku? Aku benci kamu!!" Aku mengakhiri percakapan itu. Tangisku meledak, dan rasanya susah sekali untuk menghirup udara. Kacau, semuanya hancur, ada kiamat kecil dihatiku. Yang barusaja memusnahkan apa saja yang ada di dalamnya.
"Ra, sabar ya." Aku merasakan hangatnya tubuh Putri yang mendekapku. "Sebenarnya, aku udah lama pengen kenal kamu lebih deket. Cuma aku takut, kamu nggak suka sama aku. Aku kan cuma anak biasa gini. Tapi aku sebelumnya juga mau minta maaf, kalau aku telat untuk ngasih tahu semuanya." Kata Putri.
"Makasih, Put." Jawabku singkat. Aku masih menangis. Aku benar – benar depresi. Seketika muncul hasrat untuk mengakhiri hidup, namun aku masih cukup sadar bahwa itu adalah salah. Dan aku tak ingin berbuat salah lagi.
Berhari – hari aku mengurung diri di kamar. Aku membolos dan tak pernah beranjak dari tempat tidur. Aku hanya terbaring, merasakan kehampaan yang merajarela dan sama sekali tak menyentuh makanan, apalagi air. Beginilah aku yang sekarang,tapi walaupun aku seperti ini, tak ada seorang manusiapun yang mau mengerti aku. Mama dan papa mungkin tak sadar aku ada di kamar. Mereka mungkin mengira aku ada di tempat Bella, seperti biasa. Caraku sudah benar – benar habis. Air mataku telah terkuras karena semua ketidak adilan itu. Aku ingin mati! Aku menyesal telah dilahirkan!
"Tok..tok..tok.." ada yang mengetuk pintu kamarku.
"Ra, aku boleh masuk nggak?" itu suara Putri. Aku segera menuju pintu, dan membiarkan Putri masuk.
"Jangan gini terus dong. Aku nggak mau ngeliat kamu jadi gini. Nggak masuk sekolah, ngunci diri dikamar, nangis setiap hari. Ayo dong, Ra. Aku ada disini buat nemenin kamu. Aku bakal ada buat kamu, Ra." Kata Putri.
"Aku trauma sama sahabat."
"Hmm," Putri bergumam, "Ya udah deh, mungkin kamu masih butuh waktu buat nenangin diri, maaf udah ngeganggu. Aku pamit ya. Jangan lupa besok berangkat sekolah. Sebentar lagi kita UAN. Jangan lupa mandi, rambutmu yang bagus itu nanti rusak loh, kalo nggak kamu rawat, jangan lupa maem ya. Aku percaya kamu mau ngelakuin semua yang aku bilang barusan. Jangan buat aku sedih, Ra. Aku pengen kamu jangan nyerah gitu aja. Diluar sana, masih banyak orang yang mau peduli sama kamu. Jangan buat aku nggak tenang ya, Ra. Aku pulang dulu." Kata Putri panjang lebar.
"Makasih, Put. Hati – hati ya." Putri tersenyum manis sekali, lalu Ia berlalu. Sebenarnya aku ingin Putri masih bersamaku disini. Tapi aku terlambat menyusulnya.
Beberapa jam setelah Putri menghilang dari sudut pandangku, aku mendengar kabar, bahwa Putri kecelakaan. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Tentu saja air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku meleleh, aku tak kuasa dan aku benar – benar menyesal. Pada siapa aku harus bertanya? Mengapa ini terjadi terlalu cepat? Bahkan aku sama sekali belum pernah memberikan apa – apa untuk Putri. Kenapa bukan aku saja yang meninggal? Kenapa harus Putri? Kenapa dia pergi saat aku benar – benar butuh sahabat seperti dia. Aku kehilangan waktu, kehilangan Putri, kehilangan, benar – benar merasa kehilangan. Aku terpuruk dan teraniaya sepi, sendiri, disini. Pada siapa aku harus mengadu jika aku rindu dengan sosok mungil itu? Putri, aku ingin kau tetap disini. Jangan pergi.
HILANG
Sudah cukup lama Chika tinggal di Yogya. Bersama nenek tercintanya yang telah meninggal sejak satu bulan silam. Kini Chika merasa kesepian, tanpa ada canda dan tawa riang neneknya yang selalu menyemangatinya. Kehidupannya berubah menjadi hampa. Setiap malam Ia pergi ke pantai untuk menangis, berdoa dan memohon agar Ia tetap mampu berdiri diantara terpaan ombak. Sembari menaburkan bunga mawar ke laut lepas, dimana adiknya tenggelam dan pergi jauh bersama orang tua dan neneknya ke alam lain. Dimata teman – temannya, Chika adalah gadis yang selalu menyendiri. Tertutup, dan sangat pendiam. Chika tergolong orang yang susah bersosialisasi. Apalagi dengan keadaannya kini. Satu – satunya teman yang selalu berusaha untuk mengerti perasaan Chika, adalah Dilan. Yang sekaligus menjadi tetangga barunya. Entah mengapa Dilan yang baru pindah dari Sleman merasa antusias untuk menjadi teman Chika.
Lagi – lagi hujan turun menguyur Bantul dan sekitarnya. Seperti biasa, Dilan membuntuti Chika pergi tanpa kepastian. Lusa, Chika melangkah ke Malioboro. Bergabung dengan berbagai keramaian, namun masih terlihat hilang seperti merantau ke negeri asing. Hari ini, Ia pergi ke Stasiun Tugu. Hanya ingin menunggu hujan reda, dan Ia kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Dilan sengaja duduk bersebelahan dengan Chika, yang seolah acuh dan selalu memandang ke arah luar jendela bus yang mereka tumpangi.
" Chika, sampai seperti inikah kamu memendam perasaanmu ? " kata Dilan mengawali perbincangan itu.
" Inilah aku. " jawab Chika dengan singkat dan masih menatap sesuatu yang seolah menyita perhatiannya di luar jendela.
" Kamu nggak bisa diem terus. Kamu harus bergerak, karena kehidupan ini akan selalu berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar." Kata Dilan meyakinkan Chika untuk memperhatikannya. Chika terdiam. Mungkin merenungkan sesuatu. Sampai akhirnya Ia berkata,
" Kamu nggak tau apa yang lagi aku rasain."
" Aku tau kamu lagi kehilangan arti hidup. Makanya akhir – akhir ini kamu sering pergi untuk mencari sebuah arti hidup, sendiri. " kata Dilan.
Percakapan itu terlihat semakin akrab. Memang hanya berawal dari sebuah pertemuan di bus kota yang sederhana, namun semua ini adalah awal dari sebuah makna yang istimewa. Bus melaju mengantarkan mereka ke Bantul. Dilan senang, hari ini Ia bisa berbicara dengan Chika. Hari demi hari berlalu dengan cepat. Telah nampak sebuah perubahan yang terjadi pada Chika. Ia sudah mulai mencoba bersosialisasi dengan teman – teman di kelas. Dilanlah yang kini telah menjadi sahabatnya. Mereka selalu berdua, membicarakan hal yang selalu ada kaitannya dengan kematian. Padahal Dilan adalah orang yang takut membicarakan kematian. Namun demi Chika, Dilan berusaha dengan sepenuh hati untuk mengerti sahabat barunya itu.
Jangan menyesal, karena ini adalah yang terbaik untuk kita. Jangan merasa jadi orang yang terendah. Karena serendah – rendahnya orang masih lebih rendah lagi orang yang suka merendah – rendahkan orang lain…
Rembulan setengah tiang. Malam semakin pasi. Bintang bersembunyi di balik lengan awan. Merangkak berwarna semu. Angin bertiup membawakan aroma duka kematian. Semalam, Mas Dion menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Bethesda, Yogya. Penyakit kanker yang ganas telah menggerogoti organ – organ tubuhnya, sehingga Dilan harus rela melepaskan kakak yang selalu membelanya jika sedang dimarahi Ibu. Tiga hari Dilan absen. Menangis di sudut kamarnya sembari memeluk boneka beruang hadiah dari kakaknya dua tahun silam. Merenungkan arti kematian yang akan menjemput semua insan di bumi. " Aku nggak tau apa yang terjadi kalau di rumah nggak ada kakakku. " kata Dilan pada Chika malam itu.
" Aku bisa ngerasain apa yang lagi kamu rasain. Ini emang susah, Tapi kan kata kamu, kehidupan ini akan terus berjalan dengan seiring waktu yang akan terus berputar. Iya kan! " Sahut Chika.
Mata Dilan masih terlihat sembab karena Ia selalu menangis. Seolah rembulanpun tahu semua kesedilah yang dirasakan Dilan malam itu. Sehingga Ia tampak bersembunyi di balik awan hitam, di hati yang sedang gelisah.
Hujan rintik – rintik mengawali hari ini. Seperti biasa, Chika dan Dilan berangkat sekolah bersama. Payung warna – warni mengiringi langkah mereka. Obrolan kecil sesekali menimbulkan tawa riang seolah tak ada beban kesedihan. Hujan mereda, mentari kembali bersinar, tak sengaja Dilan dan Chika melihat pelangi dengan keindahannya yang tak abadi. Pelangi itu indah, tapi hanya sesaat saja. Datang dan perginya tak menentu. Walau buat kita bahagia, kadang tinggalkan luka. Namun kedamaian itu sirna dalam sekejap. Dilan melihat seorang anak kecil yang nyaris tertabrak mobil sebelum akhirnya Ia yang menggantikan anak itu. Segera Ambulance membawa Dilan ke Rumah Sakit. Ia harus rela kehilangan penglihatannya selama beberapa tahun. Ternyata Tuhan memang adil. Dilan masih diberi kesempatan untuk dapat menyaksikan indahnya pelangi bersama sahabatnya sebelum Ia kehilangan sesuatu yang berarti. Suasana hening menyelimuti kamar 103, Chika terlihat sedih menyaksikan Ibu Dilan yang dari satu jam lalu tidak berhenti menangis. Tak lama kemudian, Dilan siuman. Ia hanya melihat hitam tanpa batas dalam hari – harinya. Tak ada yang dapat di salahkan dalam peristiwa ini. Menolong sesama adalah kewajiban.walau nyawa yang jadi taruhan. Dilan tahu Ia telah menjadi pahlawan. Namun Ia belum siap hidup dengan keterbatasan. Terpaksa Dilan menjalani homeschooling. Chika jadi semakin sering memotifasi Dilan untuk selalu bersemangat dalam menjalani hidup.
" Untuk apa aku hidup, kalau aku nggak bisa melihat pelangi bersamamu?." Kata Dilan pada Chika sore itu.
" Justru itu, kamu harus bisa nemuin pelangi di sudut pandangmu yang hanya hitam dan sepi. Ini tantangan. Dan aku yakin kamu pasti bisa. " Kata Chika meyakinkan Dilan untuk sabar.
" Dunia ku terlanjur hilang. Apa lagi yang akan hilang dariku. ? Apakah aku harus kehilangan semua yang aku suka ? " Tanya Dilan sambil menahan air mata.
" Rasa kehilangan itu, hanya aka ada jika kamu pernah memilikinya." Kata Chika sambil memegang tangan sahabatnya itu.
" Aku terlanjur memiliki semuanya. " Ucap Dilan.
" Tapi kamu belum bisa memiliki pendirian kalau hidup ini indah ! Kamu cuma bilang hidup ini indah, kalau kamu bisa menjalaninya dengan sempurna. Harusnya dalam keadaan apapun, kamu tetep bilang hidup ini indah. " Kata Chika dengan nada yang agak tinggi.Dengan semua kemampuannya, Chika berusaha meyakinkan Dilan akan Indahnya hidup. Seperti apa yang semua Dilan lakukan pada Chika dulu.
Rasa kehilangan hanya aka ada jika kau pernah merasa memilikinya…
Petang menjelang, dan cakrawala mulai menebar pesona keemasannya. Di pantai, Chika menulis puisi dengan nuansa jingga yang memayunginya. Tak terasa kini Chika telah beranjak dewasa. Ini adalah tahun kedua dimana Dilan kehilangan penglihatannya. Keadaan menjadi berubah. Chika kini sibuk dengan semua puisi – puisi yang Ia tulis untuk Dilan. Karena Dilan sempat berkata, walaupun Ia kehilangan penglihatannya, setidaknya Dilan tidak kehilangan suara, dan melodi. Malam itu, suara camca* terdengar jelas dari kamar Dilan. Itu berarti Dilan sedang merasa sepi. Ibunya menghampiri, sembari membawa secangkir susu coklat kesukaan Dilan. Suasana menjadi hangat, ketika Ibu Dilan mencoba menghibur hati putrinya itu.
" Bu, apakah aku akan melihat senyummu yang manis itu ? " tanya Dilan pada Ibunya.
" Tentu saja. Minggu depan, kamu akan memulai proses penyembuhan. Jadi jangan khawatir, sebentar lagi anak Ibu yang cantik ini bisa melihat dunia seperti dulu. " Kata Ibu sambil membelai rambut Dilan yang terurai panjang.
Tak terasa hari cepat berganti. Proses penyembuhan Dilan dimulai. Setiap lima hari sekali, Dilan harus control ke rumah sakit. Sedikit demi sedikit, tawa riang Dilan mulai terdengar seperti sedia kala. Rona gembira telah terpancar dari wajah Dilan. Tak lama lagi, Dilan dapat melihat.
" Bahagianya aku. Nggak lama lagi aku bisa melihat warna dunia yang sempat pudar dari ingatanku. " Kata Dilan pada Chika pagi itu.
" Ya, inilah yang akan kamu rasakan kalau kamu sabar." Kata Chika.
" Ini juga berkat kamu lho, Ka. Kan selama ini kamu yang udah motifasi aku, mbacain puisi yang paling bagus buat aku , dan selalu nemenin aku kalau aku lagi sendiri. " kata Dilan.
" Kamu juga berarti banget buat aku. Aku bisa jadi kayak aku yang sekarang ini kan berkat kamu. Sampai dulu kamu rela ngikutin aku sampai Malioboro, Stasiun Tugu. Ha..ha." Kata Chika sambil mengingat masa bahagianya bersama Dilan saat mereka masih berusia 13 tahun itu.
Waktu terasa semakin berlalu. Tinggalkan cerita tentang indahnya masa kecil. Dilan akhirnya dapat kembali melihat keindahan dari dunianya. Walau belum normal. Ia sudah merasa kangen dengan warna kota Yogya yang khas. Warna kota yang belum pernah berubah dari tahun ke tahun. Sungguh sulit diungkapkan dengan kata – kata. Keindahan yang tidak akan pernah dimiliki kota – kota lain. Tawa mereka melukiskan sebuah masa yang menyenangkan. Penuh dengan semua emosi yang lugu, perjalanan hidup yang nyata, dan kebersamaan yang abadi.
Akhir Desember, Dilan dapat melihat dengan sempurna. Menyaksikan kembang api yang indah di malam tahun baru bersama Chika, sahabat yang sangat Ia sayangi. Alunan musik yang asyik ikut menyatu bersama mereka dan meramaikan malam itu. Terasa nyaman kebersamaan itu.
" Malam ini sempurna. " kata Dilan sambil mengambil secangkir soft drink di atas meja.
" Iya. Akan lebih sempurna lagi jika aku masih bisa kumpul bareng sama keluarga ku." Kata Chika dengan ekspresi yang agak sedih. Kedua sahabat itu berpelukan. Dekap hangat Dilan menenangkan Chika dari kegelisahannya akhir – akhir ini. Entah apa yang terjadi, sehingga Chika terlihat sedikit pendiam dari biasanya.
Ada resah di bening matanya. Pandangannya kosong. Memantulkan sebuah cahaya jiwa. Melarikan sejumput perbincangan hati. Menembus hujan, tertuju pada pantai Parangtritis. Chika duduk termenung melamunkan sesuatu yang menyita waktunya untuk menulis puisi sore itu. Ia memandangi laut lepas yang kebetulan sepi, tak ada kapal – kapal yang berlayar atau berlabuh. Rintik – rintik hujan mulai membasahi buku bersampul coklat milik Chika. Tulisannya pudar, sedikit. Namun masih bisa terbaca. Chika merobeknya perlahan dan Ia selipkan di sebuah amplop kecil. Segera berlari pulang karena hujan sudah semakin deras. Malam harinya, Ia pergi ke rumah Dilan. Menitipkan secarik surat untuk Dilan dan kembali ke rumah. Ibu Dilan langsung memberikannya pada Dilan.
"Rasanya aneh kalau Chika nggak langsung ngasih surat ini untuk aku. " gumam Dilan dalam hati, sembari membukanya.
Dear Dilan…
Goresan penamu telah mewarnai hari – hariku yang putih. Mengubahnya menjadi nyata. Terima kasih atas apa yang telah kau berikan untukku. Mengubahku menjadi aku yang seperti ini. Aku tau kau telah memilikiku. Tapi maaf aku harus pergi. Bukan meninggalkanmu, tapi hanya melepaskanmu. Pasti suatu saat kita akan bertemu lagi. Jika kau yakin akanku, maka semua ini akan berjalan seperti apa yang kau inginkan…..
*camca : Sendok kecil.
***
Tetes air mata membasahi surat itu. Dilan segera berlari menyusul Chika yang pergi entah kemana. Hujan dimalam itu tak Ia hiraukan. Satu hal yang saat itu Dilan pikirkan adalah Chika. Dilan pergi ke pantai, namun Ia hanya melihat pasir dan hujan yang seakan merasakan rasa kehilangan yang sama dengan Dilan. Dilan pergi ke Malioboro dengan menumpang sebuah kendaraan yang lewat saat itu. Akhirnya Dilan menemukan Chika diantara keramaian Malioboro yang jauhnya ber mil – mil dari rumah Dilan. Saat itu Chika sedang menulis sesuatu ketika Ia melihat Dilan…
' BRAK ! '
Seketika sunyi. Darah mengalir terbawa arus air hujan. Khalayak ramai menghampiri tubuh yang sudah tak berdaya. Teriakan kecil terdengar memanggil nama Chika. Dilan memeluk erat sahabatnya itu. Mungkin ini pertemuan terakhir antara mereka. Seakan tak mampu melepasnya walau sudah tak ada. Hati ini tetap merasa masih memilikinya. Karena rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah merasa memilikinya. Haru menyelimuti sudut pandang Dilan. Ia merasa bersalah jika Chika harus pergi meninggalkannya. Chika segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Ini tak akan terjadi bila Dilan hati – hati. Chika sempat memberikan sesuatu pada Dilan sebelum akhirnya tubuh mungil Chika harus tertutup kain putih yang suci. Kecelakaan itu memang salah Dilan. Dan Chika menjadi penyelamatnya untuk yang terakhir kali., Isak tangis kehilangan terdengar jelas, itu suara Dilan. Ia belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang mencelakakan sahabatnya itu. Dilan ingat Chika memberinya selembar kertas tadi. Lalu Ia membacanya.
Untuk sahabatku, Dilan...
Aku tak tau tulisan ini bisa sampai di dekapmu atau tidak. Aku juga tak tau aku harus pergi kemana, dan, harus menulis apa untuk mu. Yang aku tau, aku sangat merasa kehilangan dirimu. Aku harap kita kelak dapat bejumpa lagi. Entah di alam yang sama atau di alam yang berbeda. Walau aku pernah kehilangan orang – orang yang aku sayangi, baru kali ini merasa memiliki, namun sebenarnya aku kehilangan. Aku menyebutnya memiliki kehilangan.walaupun ini nggak masuk akal aku tahu kamu pasti bisa ngerti apa yang aku rasain saat ini .Apakah …
Pesan itu tampak belum selesai. Mungkin tulisan Chika di Malioboro, sesaat sebelum Ia meninggalkan Dilan. Perpisahan ini lebih menyedihkan dari apa yang seharusnya aku coba untuk lafalkan.
Dilan masih tetap mencari kelanjutan pesan terakhir Chika. Yang jelas – jelas tidak akan pernah ditemukan. Sama halnya dengan Chika, Dilan juga baru pertama kali ini merasa memiliki kehilangan. Namun setidaknya Dilan berhasil menemukan arti sahabat….
***
Sahabat adalah orang yang selalu rela berkorban untuk kita
Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita saat kita merasa sendiri dan sepi.
Sahabat adalah orang yang selalu memberikan yang terbaik untuk kita
Sahabat adalah orang yang selalu mengingatkan kita saat kita melakukan kesalahan
Sahabat adalah orang yang selalu ada untuk kita…
menanti istri
Sang fajar kembali tersenyum pagi ini. Mengantar kerinduan pada kampung halamanku. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Romo Joko dan Biyung Asih. Besuk aku libur cukup panjang, tak ada salahnya jika aku pulang ke Yogya. Segera saja aku mengambil kunci motor di atas meja. Dan pergi ke pusat oleh – oleh daerah Tebet Raya Jakarta Selatan, sebelum akhirnya aku pergi kerja. Tak sabar rasanya bertemu dengan keluargaku di Sleman
Nggak kerasa hari ini telah kulalui dengan sempurna. Semua pekerjaanku selesai dengan cepat. Hasil – hasil fotoku nggak ada yang burem. Alhamdulillah, nggak jadi ngelembur. Pekerjaanku selama tiga tahun ini adalah fotografer sebuah majalah massal yang beredar di kampus IKJ. Isinya tentang semua yang aku lihat di
Subuh telah membangunkanku dari dunia maya yang kujalani dengan mimpi. Hari ini aku sangat bersemangat. Setelah marapikan kamar, mencuci motor dan berkemas, Aku berpamitan dengan Ibu kos ku yang baik hati dan penyayang, sekaligus menitipkan seperangkat motor. Bus membawa aku melangkah meninggalkan
" Mau ke Yogya ya mbak ? " Tanyaku sok akrab.
" Iya. Pulang kampung, Mas. Kalo Masnya mau pulang juga, apa main ? " Jawabnya ramah. Wajahnya familiar banget. Tapi siapa ya?. Lalu aku berkata
" Mau pulang juga. Em.. mbak namanya siapa ya ? Kelihatannya kita udah pernah ketemu sebelumnya. "
" Saya Ekha. Mas-nya siapa ? "
" Saya Sae.. Ekha – Ekha, yang dulu sekolah di SMU 7 Jogja itu ya ? "
" Oh, Sae. Apa kabar ? " katanya sambil memegang pundakku.
" Sae sae aja.* " candaku.
Percakapan ini dihiasi tawa kecil kami yang terdengar gembira. Pertemuan yang terjadi secara tidak sengaja ini, ternyata membuat Aku dan Ekha ber-nostalgia bersama. Tak lama kemudian, Bus yang aku tumpangi sampai di Yogya. Aku turun di terminal Jombor. Bersama Ekha yang kebetulan rumahnya berdekatan denganku. Kami naik bus yang sama, turun Monjali dan jalan sekitar 1 kilo-an. Setelah Ekha dan aku berpisah di pertigaan, tidak terasa sampailah aku pada rumah tercinta. Aku melihat adik – adikku sedang menyirami tanaman Biyung di halaman rumah. Assalamualaikuim? Kataku sambil membuka pintu gerbang. Waalaikum salam.. Jawab adik – adikku dengan serempak. Tubuh – tubuh mungil itu berlari ke arahku sambil tertawa memanggilku. Suara hebohnya membuat Romo dan Biyung ikut menghampiri kami di halaman rumah.
Pertemuan ini indah. Pelukan mereka membuatku trenyuh. Apalagi Biyung menangis.
Buah tangan untuk mereka telah kupersembahkan. Walau tak terlalu mewah, mereka tetap terlihat senang. Karena aku tahu mereka tidak memerlukan kemewahan. Yang penting hallal dan bisa bermanfaat. Aku bercengkrama dengan keluargaku di ruang tengah. Tiba – tiba Biyung bertanya padaku.
" Piye,nang ? kamu sudah dapat calon belum ? "
" Ya lagi dalam tahap pencarian tho buk. " jawabku setelah meneguk segelas air.
Adik – adik ku sedang asyik bermain sambil menonton acara TV kesukaan mereka.
" Lha kamu itu piye tho ? Romomu ini sudah ndak sabar pengen ngemong cucu." Kata Romo menyambung pembicaraan. Karena bingung, langsung saja aku menceritakan Ekha. Teman lama yang kutemui di Bus tadi. Dia adalah putri dari teman Romoku. Sewaktu SMA dulu, aku sebenarnya sempat mengagumi Ekha, namun aku tak berani mengungkapkan isi hatiku padanya. Biyung bilang, dia sudah ada yang punya. Wah, gagal lagi niatku untuk melakukan PDKT dengan anak pak RT itu.
Malam pertama di rumahku. Ayu dan Srikandi sedang melihat bintang di teras. Biyung dan Nirwana sedang memasak di dapur. Romo sedang pergi ngaji di masjid kampungku. Sedangkan aku… masih merenungkan pertanyaan Biyung tadi sore, sembari merasakan aura Yogya yang tak akan pernah ditemukan di Jakarta. Ternyata semakin dewasa, semakin banyak pula masalah yang harus aku hadapi dengan lapang dada. Aku selalu memohon pada Allah agar aku segera dipertemukan dengan wanita yang hallal bagiku seorang. Tenang sajalah, jodoh
" Le, kowe iki
Romo, Romo. Sebenarnya aku belum siap berkeluarga. Tapi, bagaimana lagi? Ya sudah, aku bakal nyari calon istri besuk pagi. Mungkin gadis - gadis Yogya tulen yang akan menjadi Soulmate ku.
Kokokan ayam membangunkanku. Sudah lama aku tak mendengar suara Jalo, ayam jago milik Romo, yang sudah berumur 7 tahun itu. Hari ini aku akan menjalani hari sesuai niatku. Mencari calon istri, di jantung
" Em… Ini lo Buk, Pak, gadis yang bakal jadi calonku. "
" Sugeng enjang, Pak, Buk ? " Sapa Risma dengan ramah.
" O, ini tho. Ayu banget lho. Namanya siapa, wuk ? " Tanya Biyung pada Risma. Percakapan ini terlihat semakin akrab. Tehmanis hangat ikut berperan pada kali ini. Mungkin bulan depan aku akan mempersiapkan wedding party. Akhirnya, jodohku ketemu juga. Alhamdulillah, matur nuwun Ya Allah.
Sebulan telah berlalu. Aku belum kembali ke
Pakaian adat Jawa tetap menjadi andalan dalam acara ini. Macam – macam acara Jawa pun aku lakukan, bersama Risma. Acara ini meriah. Walau perasaan ku masih tak tenang untuk kedepannya. Semua tamu undangan memenuhi lapangan golf Hotel yang aku sewa. Memang sengaja kami membuah pesta Out door. Kebetulan cuaca mendukung, jadi acara ini berjalan seperti rencana. Sekitar tiga jam aku duduk dan didandani seperti orang Jawa. Eh, memang aku orang Jawa, hehehe. Lepaslah ke risauan mencari istri. Akhirnya Risma menjadi seseorang yang halal bagiku. Inilah yang aku dapat atas kesabaranku. Aku, Sae Arjuna akhirnya menjalani hidup dengan Risma, Mengontrak sebuah rumah di
Tahun ini aku memutuskan untuk pindah ke Kota Yogya. Menjalani hari di
KAMUS
Romo : Bapak, dalam bahasa Jawa.
Biyung : Ibu, dalambahada Jawa.
Amburadhul : Acak – acakan
Sae – sae aja : Baik – baik saja.
Trenyuh : berkaca - kaca
Le, kowe iki
Wedding party : Pesta Pernikahan.
PDKT : Pendekatan
Jumat, 15 Mei 2009
AKHIRI PEMBERONTAKAN
cukup sampai disini saja
kau bukan lagi siapa siapa
kau hanya bagian dari yang terbuang itu
kau hanya masa lalu
yang mungkin mereka anggap sebagai hujan
hanya menyusahkan !!!
dan pasti mereka sudah melupakannya
kau sudah bukan apa - apa lagi
anggap saja sudah mati
tapi
jangan sampai jadi klise
jadi saja misterius
kau memang berbakat untuk jadi misterius
tapi sayangnya sampai saat ini, bakat itu enggan menyatu bersamamu
sudahlah
biarkan semua itu menjadi ilusi dalam sebuah dimensi yang berbeda
jangan samakan dan jangan pernah satukan itu
sepi lagi
sepi tanpamu
sepi hari ini tanpa gelak tawamu
sepi
sepi hari ini karna aku merasakan letupan kemarahan kecil yang juga belum aku ketahui sebabnya.
mungkin karenamu..
terpaksa aku membunuh perantara kita,..
sangat terpaksa sekali.. sungguh ..
aku tak bermaksud..
aku hanya ingin kau mengistirahatkan jiwamu yang mungkin telah lelah itu,..
sepi lagi.. selalu sepi akhir - akhir ini
entah apa yang terjadi , namun yang pasti ini karenamu
bukan menyalahkan, hanya ingin melihat kenyataan
sepi
sepi
sepi merajai
tak ada kata - kata manis yang menghiasi... dan janji itu, semoga kamu lupa ya..
aku biarkan saja kamu pergi, karena hidup ini, hidupmu sendiri, aku tak ingin menyusahkanmu, walaupun sebenarnya, aku merasakn SEPI
sepi lagi
Selasa, 12 Mei 2009
blog bulan mei
dah lama nggak ngurusin blog
hehe
gak ad waktu,..
maaph yaa
hahahahahaha
hmm
bingung mau ngapain
moga aja
bisa nemenin aku..
kalo aku lagi sendiri
(haha brarti stiap hari)
smoga bermanfaat
cuma mau nyari gawean aja
walopun sebenernya ini blog GJ,..
yang penting
JUST FOR FUN aja Duehh
caraku sendiri

Apa kamu pernah tau?
Aku disini sekarang sendiri
Apa kamu pernah paham?
Aku cuma mau satu
Apa kamu pernah mengira?
I'm just a little girl
Apa kamu pernah ngerasa?
Aku disini, jadi gini gara - gara kamu
Semampunya aku melepaskan diri dari semua
Dari temen- temen, dari sahabat - sahabat
yang selama ini pernah aku kenal, dan
dari semua hal yang pernah aku tau!
Ini semua gara - gara kamu
Apa kamu tau?
Sulit rasanya untuk menjadi kamu
Apa kamu mau tau?
Sebenernya aku nggak mau jadi kayak kamu, dan aku nggak bisa jadi kamu!
Jadi skali lagi
Jangan paksa aku untuk meneruskan
Segalanya yang pernah kau mulai namun belum sempat kau selesaikan
Aku lebih memilih memulai semuanya sendiri
dengan caraku,
sendiri
aku mulai terbiasa
sudahi saja
jika kau memang ingin mengubahnya
dan aku mulai terbuai dengannya
lanjutkan saja
bila memang itu cara terbaik untuk dilakukan
dan aku mulai kembali
tapi jangan sampai aku terikat oleh mereka
lagi
satu nama
satu jiwa
dilafalkan
dikenal
tapi
sama saja seperti yang lain
tak apa
aku mulai terbiasa
malam malam

mulai malam
smua yang tadinya riang, kini meredup, terdiam
terlelap dan terbuai mimpi - mimpi yang semu
keindahan ini, kesunyian ini
merasuki tubuh mungil yang tak berdaya
yang slalu mengiba dan mendosa
rasa ini
menjelma kabut dari balik jendela kamar
menyabut smua yang tlah ia lihat dan menyihir smua itu menjadi sangat tak berarti
kesunyian ini
kekal
nyata
sunyi
sunyi
sunyi
berbaur dalam
segenggam nyawa, sebuah jiwa
yang baru saja terguncang
dan masih tetap akan terguncang
mungkin sampai malam tak kembali datang
pertemuan itu

Mungkin Ia memang ditakdirkan untuk menemaniku disini..
di sekolah ini.. GRISSA
Meskipun jauh berbeda ,Aku masih tetap merasakan Letupan kegembiraan sedarhana .Saat aku bersamanya Pertemuan itu, Aku mengakuinya,. itu sama sekali tak sengaja .Namun dari situ
kau tau???
Aku akan memilikinya...

